Nusa Dua () – Pebulu tangkis Jepang Yuta Watanabe mengaku sedih karena penampilannyanya di Indonesia Badminton Festival (IBF) 2021 tidak bisa disaksikan penonton secara langsung akibat penerapan sistem gelembung yang ketat.

Menurut atlet spesialis ganda putra dan campuran ini, berlaga di Indonesia identik dengan suasana pertandingan yang ramai dengan sorak sorai penonton, sehingga akibat adanya sistem gelembung maka atmosfer kompetisinya akan berbeda.

"Rasanya sedih, kalau seperti di Jakarta (tahun lalu) biasanya terasa kemeriahannya. Sekarang walaupun di Indonesia, tapi tidak bisa merasakan suasana itu," kata Yuta saat ditemui di Nusa Dua, Bali, Sabtu.

Yuta terakhir kali bertanding di Tanah Air pada Indonesia Masters 2020 di bulan Januari, yang saat itu belum diberlakukan status darurat pandemi COVID-19 oleh pemerintah.

Oleh karenanya, meski Indonesia Masters kali ini dilangsungkan di Bali yang dikenal dengan pariwisata kelas dunianya, namun Yuta tak merasa ada perbedaan berarti karena masih dihadapkan dengan masalah pandemi.

"Sebenarnya pertandingan mau di manapun, Jakarta atau Bali, tidak terlalu beda untuk sekarang ini. Karena situasinya masih pandemi, jadi hanya bisa di sini (penginapan) dan tidak bisa ke mana-mana," kata atlet kidal itu mengungkapkan.

Namun di sisi lain Yuta mengaku sudah lama ingin mengunjungi Bali untuk berwisata, yang sayangnya keinginannya itu tidak bisa terlaksana pada kedatangannya kali ini.

Ia pun menaruh harapan suatu saat bisa kembali datang ke Bali bukan sebagai atlet yang membela Jepang untuk berkompetisi, namun sebagai wisatawan untuk menikmati pesona Pulau Dewata.

"Sebenarnya saya ingin sekali datang ke sini bukan untuk bertanding. Ini pertama kalinya saya ke Bali, ya inginnya bisa jalan-jalan. Kalau misalkan ada waktu, ingin bisa ke sini lagi untuk wisata. Tapi kapan ya? Mungkin nanti setelah pensiun," pungkasnya.

Baca juga: Fasilitas menarik disiapkan di gelembung Indonesia Badminton Festival
Baca juga: 256 pebulu tangkis dunia ramaikan pembukaan IBF 2021 di Bali

 

Pewarta: Roy Rosa Bachtiar
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © 2021