Sel. Jul 27th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

4 Tips Memilih Musik yang Disukai Bayi dalam Kandungan, Bumil Harus Tahu

Young Asian husband touching/listening on belly pregnant wife with love and happy

Jakarta

Secara umum usia kehamilan berlangsung selama 40 minggu, Bunda. Dalam periode tersebut, dibagi menjadi tiga tahapan perkembangan janin, yaitu periode zigot, periode embrio, dan periode janin.

Pada janin, mereka akan beraktivitas layaknya bayi yang baru lahir, seperti mendengarkan suara-suara. Sebab, indra pendengaran mereka sudah terbentuk sejak masih janin lho Bunda. Bahkan tidak sedikit orang tua yang percaya bahwa bayi bisa mendengar dan mengidentifikasi suara saat di dalam kandungan.

Menurut Robert Abrams, ahli fisiologi janin dari University of Florida, suara-suara dari luar tubuh, memang agak teredam, tapi masih bisa terdengar oleh bayi dengan jelas. Suara frekuensi rendah cenderung lebih terdengar daripada suara frekuensi tinggi.

Sehingga, tidak sedikit orang tua yang sengaja mencoba untuk memperdengarkan suara-suara seperti musik ketika bayi masih di dalam kandungan. Ya, musik memang dapat merangsang pertumbuhan otak. Namun, bukan berarti ini dapat menambah kecerdasan janin.




Menurut Kelly Kasper, MD, seorang obgyn dan profesor klinis di Indiana University School of Medicine mengatakan bahwa ini tidak memiliki pengaruh langsung pada kecerdasan janin.

“Tidak ada penelitian yang mengatakan bahwa memainkan musik untuk bayi dalam kandungan membuat mereka lebih pintar,” kata Kasper dilansir dari laman The Bump.

Meski begitu, tidak ada salahnya Bunda untuk mencobanya. Mengingat semakin meningkatnya respon janin terhadap suara-suara tertentu, meskipun mungkin tidak mengenali kata-kata itu sendiri.

Pilihan terbaik adalah dengan memutar musik dengan mode stereo sembari menjalani aktivitas hari-hari. Malahan, tidak dianjurkan memperdengarkan langsung pada perut lho Bunda. Mengutip Babycenter, ide menggunakan earphone di perut justru dapat merangsang bayi secara berlebihan.

Baca Juga : Perkembangan Janin 6 Bulan yang Normal, Bunda Perlu Tahu

Sehingga ketika hamil, Bunda diharuskan untuk mencoba menjaga volume suara di luar sekitar yang tingkat kenyaringannya sekitar 50-60 desibel atau sama dengan percakapan normal. Itu artinya Bunda tidak disarankan menggunakan earphone di bagian perut.

Musik untuk ibu hamil

Musik dikenal sebagai media relaksasi yang umum digunakan untuk menghilangkan stres, tak terkecuali pada ibu hamil, Bunda.

“Ketika seorang wanita rileks, itu baik untuk janin dan itu adalah efek musik tidak langsung pada janin,” kata Janet DiPietro, seorang psikolog perkembangan yang mempelajari perkembangan janin di Johns Hopkins University.

Musik dapat membantu Bunda rileks, tertidur, atau membuat setidaknya bersemangat lagi ketika Bunda mengalami fase kebosanan saat menjalani periode kehamilan. Tetapi, penting untuk mengetahui jenis musik yang akan diperdengarkan.

Ilustrasi ibu hamil mendengarkan musik/ Foto: iStockphoto

Berdasarkan American Academy of Pediatrics melaporkan pada akhir 1990-an bahwa terdapat beberapa penelitian menunjukkan bahwa bayi yang belum lahir yang terpapar suara keras dalam jangka waktu yang lama lebih mungkin lahir prematur, memiliki berat badan yang lebih rendah, dan mengalami gangguan pendengaran frekuensi yang lebih tinggi saat lahir.

Sehingga, disarankan Bunda untuk memperdengarkan jenis musik yang sesuai untuk menenangkan, seperti jenis musik yang memiliki tempo lambat. Menurut Don Campbell dalam bukunya berjudul Efek Mozart (2002), ini dapat memperlambat gelombang otak, yang menandakan ketenangan, menstabilkan pernafasan, denyut jantung, denyut nadi dan tekanan darah.

Nah Bunda, menurut dr Suririnah dalam bukunya berjudul Buku Pintar Kehamilan & Persalinan (2008) terdapat beberapa tips untuk memperdengarkan musik sebagai berikut:

  1. Memperdengarkan semua jenis musik yang Bunda senangi, selama musik tersebut selaras, lembut, dan menenangkan, dan bukan musik-musik yang keras.
  2. Salah satu jenis musik yang dianjurkan adalah musik klasik seperti Mozart, karena musik ini dapat memberikan ketenangan dan ada pendapat yang menyatakan bahwa musik klasik akan meningkatkan aktivitas gelombang otak yang dapat membantu membangun jaringan-jaringan sinapsis otak dengan baik.
  3. Sewaktu memperdengarkan musik untuk bayi dalam kandungan, tidak perlu dengan suara yang keras , karena cairan ketuban merupakan penghantar suara yang baik. Suara yang terlalu keras hanya akan menyakitkan dan mengejutkan bayi dalam kandungan, bukan menenangkan.
  4. Bunda hanya perlu memperdengarkan musik sekitar satu jam per hari sehingga tidak memberikan stimulus berlebihan kepada bayi.
Baca Juga : 7 Reaksi Janin Saat Ibu Hamil Berhubungan Badan, Aman atau Tidak?

Sebagai penutup, bila pada akhirnya Bunda memutuskan mencoba memperdengarkan musik pada bayi selama ia di dalam kandungan, hal terpenting yang harus diingat adalah bahwa musik untuk dinikmati bukan karena ingin mencoba membuat janin menjadi lebih pandai.

Semoga bermanfaat ya, Bunda.

(haf/som)