Ming. Jun 13th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Alami Penebalan Dinding Rahim, Bisakah Bunda Hamil?

Ketebalan dinding rahim atau endometrium penting dalam kehamilan. Peluang terbaik untuk hamil yang sehat itu kalau endometrium memiliki ukuran yang pas. Masalah kerap datang jika Bunda mengalami penebalan dinding rahim yang di atas normal, bisakah Bunda hamil?

Valinda Riggins Nwadike, MD, MPH, dokter spesialis kebidanan dan ginekologi, menjelaskan penebalan dinding rahim dikenal dengan hiperplasia endometrium. Hal ini sering kali terkait dengan kadar estrogen atau senyawa mirip estrogen yang berlebihan, dan tidak cukupnya progesteron.  “Kondisinya sendiri bukanlah kanker, tapi bisa memicu perkembangan kanker,” kata Nwadike.

Baca Juga : Tak Ada Tanda Kehamilan di Usia Satu Minggu Bukan Berarti Kandungan Lemah, Bun

Meskipun kondisinya tidak bersifat kanker, terkadang kondisi ini dapat menjadi pendahulu kanker rahim, jadi sebaiknya hubungi dokter untuk memantau perubahan apa pun.

Sedangkan untuk ketebalan dinding rahim, menurut Nwadike, ketika Bunda mencoba hamil dengan memperhatikan ketebalan endometrium dapat membantu Bunda memahami cara terbaik untuk mengoptimalkan peluang keberhasilan pembuahan.

Ketebalan endometrium juga berpengaruh pada keberhasilan IVF-ET.




Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kemungkinan kehamilan klinis pada pasien dengan ketebalan endometrium kurang dari 7 mm secara signifikan lebih rendah dibandingkan dengan pasien dengan ketebalan endometrium lebih dari 7 mm. Namun, hasil ini relatif baik ketika usia pasien kurang dari 35 tahun atau jumlah oosit yang diambil lebih dari lima atau jumlah embrio yang tersedia untuk dipindahkan adalah ≥3.

Dengan demikian, tidak ada nilai batas pasti dari penebalan dinding rahim yang diwajarkan.

Sebenarnya, ketebalan endometrium itu sering berubah di sepanjang hidup seseorang. Dari masa kanak-kanak, hingga matang secara seksual, tahun-tahun subur, dan setelah menopause.

Ketebalan endometrium juga berubah selama siklus menstruasi. Begitu juga dengan kehamilan yang menjadi salah satu penyebab umum berubahnya ketebalan endometrium.

“Wanita yang mengalami kehamilan ektopik atau yang hamil kurang dari 5 minggu mungkin menunjukkan tanda-tanda endometrium yang menebal,” ujar Nwadike.

Untuk mengukur ketebalan endometrium ini bisa menggunakan USG. Apabila USG dilakukan pada perempuan yang belum mulai menstruasi, terlihat endometrium tetapi lebih kecil daripada di kemudian hari.

Menurut Radiological Society of North America (RSNA), endometrium paling tipis terjadi selama menstruasi, biasanya ketebalannya antara 2-4 milimeter (mm). Kemudian endometrium mulai menebal dan dapat berukuran antara 5–7 mm pada paruh pertama fase proliferasi yang dimulai sekitar hari ke 6 hingga 14 siklus menstruasi, atau waktu antara akhir hingga hari pertama siklus menstruasi, saat perdarahan berhenti, dan sebelum ovulasi.  

Baca Juga : 5 Cara Berhubungan Intim yang Tidak Mengakibatkan Kehamilan

Saat siklus berlangsung dan menuju ovulasi, endometrium tumbuh lebih tebal, hingga sekitar 11 mm. Pada saat siklus sekita 14 hari, hormon memicu pelepasan sel telur. Selama fase sekresi ini, ketebalan endometrium paling besar dan bisa mencapai 16 mm. Namun, kalau Bunda melihat terjadi pendarahan yang tidak normal, keluarnya cairan, nyeri panggul, atau perubahan lain yang dirasakan tubuh, segeralah berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan perawatan yang tepat.

Tanda paling umum dari penebalan dinding rahim yang berlebihan meliputi pendarahan setelah menopause, pendarahan yang sangat berat atau berlangsung lama selama menstruasi, siklus haid tidak teratur yang berlangsung kurang dari 3 minggu atau lebih dari 38 hari, bercak antar periode.