Ming. Jun 13th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Bunda Alami Perdarahan Saat Hamil, Tanda Keguguran?

Bunda yang sedang hamil pasti akan panik luar biasa jika mengalami perdarahan, apalagi kalau usia kehamilan masih sangat muda. Tak jarang pikiran pun langsung bertanya-tanya; apa ini tanda-tanda keguguran?

Keguguran merupakan komplikasi kehamilan yang paling umum. Kondisi ini amat rentang terjadi pada bunda yang di masa kehamilan awal sampai usia 24 minggu. 

Baca Juga : Cara Cepat Hamil dengan Kondisi Rahim Terbalik

“Keguguran bisa terjadi karena berbagai masalah medis. Maka dari itu, mengetahui penyebab dan faktor risikonya bisa mengurangi kemungkinan keguguran,” kata profesor keperawatan Deborah Weatherspoon mengutip Healthline.

Sebanyak satu dari tiga Bunda hamil mengalami perdarahan selama trimester pertama, mulai dari bercak coklat hingga merah cerah hingga gumpalan darah besar. 

Apabila usia kandungan enam minggu dari periode terakhir, risiko keguguran telah turun menjadi sekitar 15 persen atau 1 dalam 6 kehamilan. Pada tahap ini biasanya perlu pemindaian ultrasonografi (USG) untuk melihat kantung kuning telur di rahim dan kutub janin di dalamnya. 

Pada delapan minggu, risikonya jauh lebih rendah dan jika detak jantung janin dapat dilihat pada pemindaian pada tahap ini, risiko keguguran telah turun menjadi 3 persen. Ini berarti 97 persen Bunda hamil dengan detak jantung janin pada usia delapan minggu bisa mengharapkan kehamilan yang berlanjut, risiko keguguran tidak lebih dari 1 persen.

Lesley Regan, Profesor Obstetri dan Ginekologi, dalam Your Pregnancy Week by Week, mengaku ia memahami betapa mengkhawatirkan jika mengalami perdarahan saat hamil muda. Namun, dalam kebanyakan kasus, masalah pendarahan itu mereda dan bukan karena ada masalah serius.

“Sebagai tindakan keamanan, Anda mungkin ditawari pemindaian ultrasonografi (USG) dini, di mana selama itu dimungkinkan untuk mengidentifikasi kantung kehamilan di rongga rahim yang berkembang menjadi kutub janin dan kantung kuning telur. Ini akan sangat meyakinkan,” kata Regan. 

Meski begitu, beberapa Bunda hamil ketakutan ketika di-USG bisa meningkatkan perdarahan atau membenarkan ketakutannya bahwa kehamilan telah hilang. Regan mengatakan memahami betul ketakutan itu, namun USG menjadi pilihan terbaik untuk mengetahui jawabannya.

Regan menceritakan pengalamannya ketika mengalami perdarahan. Saat itu, ia berasumsi mengalami keguguran. Ia menangis, namun hasil USG menunjukkan pendarahan tersebut tak mengganggu embrio kecil.

“Saya tidak akan pernah melupakan betapa tertekannya perasaan saya ketika saya mengalami perdarahan hebat pada delapan minggu kehamilan saya. Saya sedang duduk diam dalam pertemuan dengan sejumlah besar kolega medis dan tiba-tiba, tanpa peringatan, saya menyadari bahwa kursi saya hangat dan basah dan saya berdarah. Tidak ada rasa sakit dan tidak ada peringatan, terjadi begitu saja.”

Menurutnya, perdarahan pada awal kehamilan selalu patut untuk diselidiki, dan meskipun berat, itu tidak selalu berarti kehamilan telah berakhir.

Keguguran adalah sebuah proses, bukan peristiwa tunggal, begitu juga jika vagina mengalami pendarahan atau Bunda mengalami nyeri saat hamil, ada banyak penyebabnya. 

Pada threatened miscarriage, tidak ada masalah yang jelas pada scan USG dan perdarahan akan berhenti setelah beberapa hari atau kambuh lagi, tetapi serviks tetap tertutup. Jika proses berlanjut dan serviks mulai terbuka, biasanya disertai nyeri perut yang menjulur, maka keguguran menjadi tak terelakkan.




Risiko keguguran meningkat seiring dengan usia Bunda dan juga jika Bunda pernah mengalami keguguran sebelumnya.  

Keguguran berulang, atau yang terjadi tiga kali atau lebih secara berturut-turut, jarang terjadi. Ini hanya mempengaruhi 1 persen pasangan.  

Lanjut baca halaman selanjutnya, Bun.

Baca Juga : Bunda, Kenali Yuk Risiko Obesitas pada Ibu Hamil dan Bayi

Simak juga penjelasan dokter tentang 8 faktor pemicu keguguran, dalam video di bawah ini:

[Gambas:Video Haibunda]