Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Cara Mendidik Anak yang Suka Moody, Begini Tips Kelola Emosinya Bun

Fed up woman listening to her two years old daughter crying sitting on the bed in a house interior

Bunda biasanya khawatir kalau Si Kecil yang balita moody-an. Nanti kalau sekolah takut enggak punya teman. Bagaimana ya biar anak enggak moody-an?

Memang setiap anak usia prasekolah itu mengalami berbagai suasana hati, dari bahagia, sedih, marah, cemburu, mudah tersinggung, cemberut, dan melawan di sepanjang harinya. Tapi, Bunda bisa mengajari anak untuk tidak moody-an.

Baca Juga : Waspada Bun, Ini Bahaya Kurang Zat Besi & Dampaknya Bagi Masa Depan Anak

Psikolog anak dr. Richard Woolfson, Ph.D, PGCE, MAppSci, CPsychol, FBPsS, dalam buku Your Preschooler Bible, mengatakan anak-anak seiring pertumbuhannya akan belajar bagaimana mengelola emosi yang berbeda.

“Seiring bertambahnya usia anak Anda dan semakin sadar akan orang-orang di sekitarnya dan perasaannya sendiri, suasana hatinya mungkin menjadi lebih kompleks,” kata Woolfson.

Anak moody, kata Woolfson, cenderung membiarkan perasaan negatif mendominasi. Hal ini membuat anak sulit untuk diajak bermain bersama. Teman-temannya akan segera menjauh darinya karena mereka menganggapnya sikap Si Kecil yang suka tidak terduga. Akibatnya, anak itu sendiri akan menghabiskan lebih banyak waktu bersedih daripada menikmati waktunya sendiri.  

Sebaliknya, seorang anak yang menyadari suasana hatinya kerap berubah-ubah namun cukup mampu mengendalikannya dan peka terhadap berbagai perasaan orang-orang di sekitarnya, ia akan lebih cenderung memiliki perasaan nyaman dan sangat puas.



“Tingkat pengelolaan dan pemahaman emosional anak prasekolah Anda adalah kombinasi dari kepekaan sejak lahir, keterampilan yang dia pelajari saat tumbuh dewasa, dan interaksi antara kemampuan ini,” ujar Woolfson.

Bunda bisa mengajari anak untuk lebih efektif menangani suasana hatinya. Mungkin yang paling berguna baginya dengan mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata, bukan perilaku.  

“Itu tidak selalu mudah bagi anak prasekolah karena kemampuan bahasanya masih belum berkembang, dan jauh lebih mudah baginya untuk memukul seseorang daripada memberi tahu dia betapa frustrasinya atau marahnya dia,” tambah Woolfson.  

Meskipun demikian, anak akan belajar menggambarkan emosinya daripada bertindak berdasarkan emosi tersebut. Katakan pada Si Kecil bahwa Bunda ingin tahu apa yang dia rasakan di dalam hatinya. Jelaskan bahwa Bunda akan membantu Si Kecil mengungkapkan emosinya ke dalam kata-kata, dan bersabarlah saat dia perlahan belajar mengekspresikan dirinya melalui bahasa lisan alih-alih tindakan fisik.  

“Cobalah untuk menciptakan lingkungan mendengarkan di rumah, di mana anak dapat mengatakan apa yang dia rasakan dan pikirkan dengan pengetahuan yang akan dia dengarkan. Lakukan diskusi tentang emosi orang lain juga,” katanya.

Minta juga anak memikirkan tentang perasaan teman-temannya dan saudara-saudaranya saat dia bermain dengan mereka. Hal akan sangat membantu anak mengendalikan suasana hatinya.  

Baca Juga : Jawaban Kak Seto Saat Ditanya Apakah Pernah Marah di Rumah

“Psikolog menyatakan bahwa anak perempuan dan laki-laki memiliki potensi yang sama untuk mengatur suasana hati, hanya saja kekuatan mereka terletak pada area yang berbeda. Anda mungkin tidak dapat mengubah suasana hati yang dialami anak prasekolah Anda, tetapi Anda dapat memengaruhi dampak suasana hati tersebut terhadap perilakunya,” ujar Woolfson.

Simak juga tips mengendalikan emosi anak dalam video berikut ini, Bunda:

[Gambas:Video Haibunda]

Banner suami pengangguran

(som/som)