Jakarta () – Jenama barang mewah Chanel membeli ladang bunga melati lebih banyak untuk menjaga produksi parfum terlarisnya “No.5” yang dikenal secara global sehingga bisa mengamankan suplai bahan baku dan varietas lainnya yang harus dipanen secara tradisional menggunakan tangan.

Perusahaan asal Prancis itu menyebutkan telah membeli 10 hektar atau setara dengan 100 ribu meter persegi ladang bunga dan menambahkannya dengan ladang milik mereka sebelumnya yang seluas 20 hektar.

Melansir Reuters, Sabtu, Chanel menggandeng masyarakat lokal di sekitar Kota Grasse, Pegomas yang menjadi tempat beradanya ladang bunga itu.

Di pagi hari sebelum panas mencapai puncaknya pada Agustus baru-baru ini di Pegomas, para pekerja pemetik bunga sibuk untuk musim panen yang menjadi kunci kehadiran parfum berusia 100 tahun yang dikenal dengan “Chanel No.5” yang didesain langsung oleh Coco Chanel.

Pembuatan parfum legendaris itu bermula pada saat Chanel menjalin kerjasama dengan keluarga lokal yang bernama keluarga Mul pada 1980 untuk bisa mendapatkan hasil dari lima varietas bunga di wilayah itu.

Beberapa produsen lokal mulai menjual tanah mereka pada saat itu, sebagian tertarik oleh kesepakatan properti di wilayah yang dekat dengan Nice dan French Riviera.
 

Seorang pemetik bunga melati untuk digunakan sebagai bahan parfum Chanel No.5 di ladang keluarga Mul di Pegomas dekat Grasse, selatan Prancis, 26 Agustus 2021. (REUTERS/ERIC GAILLARD)

"Ada masanya ada ancaman karena produksi melati mulai berpindah ke negara lain," kata Kepala Parfum Chanel Olivier Polge yang mengikuti jejak pada 2013.

Melati yang tumbuh di Grasse memiliki aroma tertentu. Wilayah ini menjadi pusat bunga dan wewangian pada abad ke-17, ketika penyamak kulit lokal mulai mengharumkan barang dagangan mereka.

Baca juga: Chanel luncurkan iklan baru untuk tasnya yang ikonik

Fabrice Bianchi yang menjalankan produksi keluarga Mul, mengatakan operasi ladang bunga tidak terlalu terpengaruh oleh pandemi COVID-19 karena para pemetik bunga dapat bekerja di luar ruangan.

COVID-19 bisa menyebabkan penderitanya kehilangan indra perasa dan penciuman yang bisa menjadi masalah dalam bisnis parfum karena hidung adalah aset utama dalam bisnis ini.

Meski demikian Chanel terus berupaya bisa memaksimalkan diri di tengah keterbatasan akibat pandemi SARS-CoV-2 selama dua tahun terakhir.

"Tentu saja, itu adalah tahun yang cukup aneh,Tetapi dalam banyak hal itu sama bagi saya seperti untuk semua orang, meskipun saya hidung – kami semua berusaha untuk tidak mendapatkannya,” tutup Olivia Polge.

Baca juga: Chanel berencana gelar pagelaran busana fisik

Baca juga: Chanel padukan nuansa 90'an dengan keanggunan Provence

Penerjemah: Livia Kristianti
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © 2021