Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Waspada Nomophobia, Anak Kecanduan Smartphone

Anak main gadget

Nomophobia atau no mobile phone phobia, adalah kondisi yang menggambarkan ketakutan yang berkembang di dunia saat ini yaitu, ketakutan tidak memiliki perangkat seluler. Nomophobia sedang menjadi bayang-bayang kehidupan anak milenial. Banyak di antara mereka yang mandi atau sekadar buang air harus membawa ponsel mereka. 

Dikutip dari Psychology Today, YouGov melakukan penelitian dengan sampel penelitian terdiri dari 2.163 orang di Inggris untuk melihat kecemasan yang dialami oleh pengguna ponsel. Studi tersebut menemukan bahwa hampir 53 persen pengguna ponsel di Inggris cenderung cemas ketika mereka kehilangan ponsel, kehabisan baterai atau pulsa, atau tidak memiliki jangkauan jaringan.

Baca Juga : 5 Gaya Pola Asuh Generasi Milenial, Apakah Bunda Juga Menerapkannya?

Studi tersebut menemukan bahwa sekitar 58 persen pria dan 47 persen wanita menderita fobia, dan 9 persen lainnya merasa stres saat ponsel mereka mati. Sebanyak 55 persen persen dari mereka yang disurvei menyatakan tetap berhubungan dengan teman atau keluarga sebagai alasan utama mereka menjadi cemas ketika mereka tidak dapat menggunakan ponsel mereka.



Bahkan di Amerika jauh lebih buruk, Bunda. Sebanyak 66 persen dari semua orang dewasa menderita nomophobia. Anak Bunda mungkin salah satu yang menderita nomophobia, takut ditinggalkan tanpa perangkat seluler. 

Kecanduan smartphone bukanlah masalah yang dapat diabaikan. Seorang terapis baru-baru ini mengatakan bahwa memberikan smartphone kepada anak-anak itu seperti memberi mereka satu gram kokain. Bahkan para ahli yang memberikan peringatan dengan kata-kata yang lebih hati-hati mengklaim bahwa kecanduan ponsel bisa sama berbahayanya dengan kecanduan non-fisik lainnya.

Namun, bagaimana cara orang tua mengetahui perbedaan antara anak sehat dan aktif yang menggunakan smartphone dengan tepat dan anak yang terkena nomophobia? Ada metode untuk mengukur kecanduan smartphone, dan Bunda dapat mencobanya di rumah. Peneliti dari Iowa State University membuat survei 20 pertanyaan yang dapat dinilai orang tua sendiri untuk menyoroti kemungkinan kecanduan smartphone pada anak Bunda.

Skala nomophobia

Dilansir Fatherly, ajukan pertanyaan berikut kepada anak Bunda. Beri nilai untuk setiap jawaban dari pertanyaan yang diajukan. Skala 1 (sangat tidak setuju) sampai 7 (sangat setuju), dan hitung skornya. Skor antara 20 dan 60 tidak perlu dikhawatirkan. Studi di Iowa State menyatakan jika skor berada di 61-100 menunjukkan “nomophobia sedang”, dan skor 101 hingga 120 dapat menjadi perhatian. Berikut 20 pertanyaan yang dapat menilai apakah anak Bunda mengalami nomophobia.

1. Saya akan merasa tidak nyaman tanpa akses terus-menerus ke informasi melalui smartphone saya.
2. Saya akan kesal jika saya tidak dapat mencari informasi di smartphone saya ketika saya ingin melakukannya.
3. Tidak bisa mendapatkan berita (misalnya, kejadian, cuaca, dll.) di ponsel akan membuat saya gugup.
4. Saya akan kesal jika saya tidak dapat menggunakan smartphone dan/atau kemampuannya saat saya ingin melakukannya.
5. Kehabisan baterai di smartphone saya akan membuat saya takut.
6. Jika saya kehabisan kredit atau mencapai batas data bulanan saya, saya akan panik.
7. Jika saya tidak memiliki sinyal data atau tidak dapat terhubung ke Wi-Fi, maka saya akan terus memeriksa apakah saya memiliki sinyal atau dapat menemukan jaringan Wi-Fi.
8. Jika saya tidak bisa menggunakan smartphone saya, saya akan takut terdampar di suatu tempat.
9. Jika saya tidak dapat memeriksa ponsel saya untuk sementara waktu, saya akan merasa ingin memeriksanya.
10. Saya merasa cemas karena tidak dapat langsung berkomunikasi dengan keluarga dan atau teman.
11. Saya akan khawatir karena keluarga dan/atau teman saya tidak dapat menghubungi saya.
12. Saya akan merasa gugup karena saya tidak dapat menerima pesan teks dan panggilan.
13. Saya akan gelisah karena saya tidak bisa berhubungan dengan keluarga dan/atau teman saya.
14. Saya akan gugup karena saya tidak tahu apakah seseorang telah mencoba untuk menghubungi saya.
15. Saya akan merasa cemas karena hubungan saya yang dengan keluarga dan teman-teman akan putus.
16. Saya akan gugup karena saya akan terputus dari identitas online saya.
17. Saya akan merasa tidak nyaman karena saya tidak bisa mengikuti perkembangan media sosial dan jaringan online.
18. Saya akan merasa canggung karena saya tidak dapat memeriksa pemberitahuan saya untuk pembaruan dari koneksi dan jaringan online saya.
19. Saya akan merasa cemas karena saya tidak dapat memeriksa pesan e-mail saya.
20. Saya akan merasa aneh karena saya tidak tahu harus berbuat apa.

Baca Juga : 7 Tips Jadi Ibu Pintar di Era Digital, Simak Bun

Jika hasil menunjukkan bahwa anak Bunda mengalami nomophobia, kunci untuk menangani nomophobia adalah menetapkan batasan, kata seorang psikolog klinis Lisa Strohman. Strohman menyarankan anak-anak untuk tidak meletakkan smartphone mereka di tempat tidur, sehingga mereka tidak mengakhiri malam dan memulai hari dengan melihat ponsel. Saat bersosialisasi secara langsung, Strohman menyarankan kebijakan tanpa telepon yang keras dan cepat. Dan dia menyarankan untuk mencopot pemasangan aplikasi dan menonaktifkan suara atau dengungan yang menarik terlalu banyak perhatian anak Bunda terhadap perangkat selulernya.

Jika masalahnya menjadi sangat serius, orang tua mungkin bisa mempertimbangkan untuk mengambil smartphone atau mengatur batas waktu penggunaan, hanya mengizinkan beberapa menit atau jam penggunaan ponsel per hari. Terlepas dari itu, jika Bunda atau anak Bunda berada di peringkat sekitar 120 dalam skala nomophobia, sekarang adalah waktu yang tepat untuk melepaskan ikatan smartphone Bunda.

Simak juga cara mengatasi anak ketagihan gadget dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(som/som)