Sab. Okt 16th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Alert! AS Suruh Pulang Diplomat dan Keluarga dari Myanmar

Akisi demo di Myanmar terus berlanjut. AP/

Jakarta, Indonesia – Amerika Serikat (AS) melalui Departemen Luar Negeri memerintahkan diplomat non esensial meninggalkan Myanmar. Hal ini diumumkan Selasa (30/3/2021), di tengah makin mencekamnya kondisi Burma.

Unjuk rasa warga menentang penggulingan pemerintahan sipil sejak 1 Februari 2021, membuat aparat melakukan tindakan keras. Melansir Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) telah mencatat korban jiwa mencapai lebih 500 orang hingga Selasa.

Baca:

Myanmar Perang Saudara, Tentara Etnis Turun Gempur Junta

“Militer Burma telah menahan dan menggulingkan pejabat pemerintah terpilih,” kata Deplu AS dalam sebuah pernyataan, menggunakan nama lama Myanmar, Burma, Rabu (31/3/2021).”Protes dan demonstrasi menentang kekuasaan militer telah terjadi dan diperkirakan akan terus berlanjut.”

Langkah itu dilakukan setelah pada pertengahan Februari, Departemen Luar Negeri mengesahkan izin pulang sukarela pegawai pemerintah AS non-darurat dan anggota keluarga. Status ini kemudian diperbaruhi menjadi perintah untuk saat ini.

Baca:

Gokil! Prabowo Deal Borong Senjata Jepang untuk RI

“(Aturan ini) demi keamanan personel pemerintah AS dan tanggungan mereka. Warga negara AS adalah prioritas tertinggi,” ujar seorang juru bicara.

Melansir AFP, aturan ini akan ditinjau 30 hari. Menurut Asosiasi Bantuan Tahanan Politik (AAPP), sudah 520 warga sipil tewas selama demo anti militer terjadi dua bulan ini, di mana junta telah menahan 2.574 orang.

Sementara itu, sebelumnya milisi etnis di Myanmar “turun gunung” guna melawan kekerasan junta militer. Tiga kelompok bersenjata yakni Arakan Army (AA), Tentara Aliansi Demokratik Nasional Myanmar (MNDAA) dan Tentara Pembebasan Nasional Ta’ang (TNLA) mengumumkan bersatu melawan Tatmadaw.

Dikutip dari media lokal, The Irrawaddy, ketiganya mengutuk tindakan mematikan aparat ke pengunjuk rasa anti kudeta. Per Selasa, korban tewas akibat peluru tajam militer dan polisi mencapai lebih dari 500 orang.

Sementara itu di luar tiga sekutu itu, milisi etnis lain yakni Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) telah melancarkan serangan terhadap junta. Mereka menggempur militer dan polisi di Negara Bagian Kachin dan Negara Bagian Shan utara.

Ini dilakukan sejak 11 Maret. Tindakan itu dilakukan setelah dua warga sipil ditembak mati dalam tindakan keras oleh pasukan keamanan terhadap pengunjuk rasa anti-rezim di ibu kota Negara Bagian Kachin, Myitkyina pada 8 Maret.

Myanmar telah berada dalam kekacauan sejak militer menahan Aung San Suu Kyi pada 1 Februari lalu. Hal ini memicu demonstrasi besar-besaran yang menuntut Suu Kyi dan politisi sipil bebas.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)