Kam. Mei 13th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Astaga Ada Warning WHO! Jadi Bagaimana Nasib Saham Farmasi?

Jakarta, Indonesia – Setelah dalam setahun belakangan saham-saham farmasi menunjukkan kenaikan yang signifikan akibat sentimen positif dari vaksin Covid-19, sejak awal tahun saham-saham produsen obat-obatan ini cenderung loyo.

Kemarin, Selasa (14/4/2021), misalnya, mayoritas saham farmasi kompak ditutup di zona merah. Hanya satu dari sembilan saham yang diamati yang berhasil ditutup menguat di zona hijau, yakni PT Merck Tbk (MERK).

Merosotnya saham-saham tersebut seiring adanya kabar buruk dari Badan Kesehatan Dunia (WHO). Lembaga itu menyebut pandemi virus corona (Covid-19) tumbuh secara eksponensial.

Lantas, bagaimana dengan kinerja saham-saham farmasi secara year to date (YTD)?

Kemudian saham mana yang masih bisa tumbuh sejak awal tahun?

Di bawah ini Tim Riset Indonesia menyajikan tabel gerak saham farmasi secara harian dan YTD, mengacu pada data Bursa Efek Indonesia, pada Rabu (13/4).

Berdasarkan tabel di atas, trio saham farmasi pelat merah, anak usaha dari PT Biofarma (Persero), INAF, KAEF dan PEHA, menjadi yang paling ambles secara YTD.

Ketiganya tercatat merosot sangat dalam, yakni di kisaran 27-40%, melebihi penurunan SIDO yang sebesar 4,97% dan SOHO 1,74%.

Satu saham lagi yang sempat jadi primadona yakni PT Itama Ranoraya Tbk (IRRA). Saham emiten distributor produk farmasi dan jarum suntik sekali pakai ini minus 19,86% sebulan terakhir dan year to date juga naik tipis 4,69% di level Rp 1.675/saham.

Menariknya, trio INAF, KAEF dan PEHA, setelah mengalami ‘demam’ kenaikan setelah didorong sentimen vaksinasi Covid-19 pada pertengahan Januari tahun ini, saham tersebut cenderung bergerak ‘menuruni bukit’ (lihat chart di bawah ini).

Apabila menilik grafik di atas, saham ketiganya cenderung naik setidaknya sejak Oktober tahun lalu, hingga akhirnya kompak melesat meraih all time high dalam setahun terakhir pada 12 Januari 2021.

INAF melonjak ke posisi Rp 6.975/saham, KAEF ke Rp 6.975/saham dan anak usaha KAEF, PEHA melejit di Rp 2.640/saham.

Melesatnya ketiga saham tersebut terjadi sehari sebelum program vaksinasi Covid-19 dimulai. Asal tahu saja, INAF dan KAEF sebelumnya telah ditunjuk sebagai distributor vaksin Covid-19.

Adapun saham IRRA juga meroket 216% dalam setahun terakhir. 

Sebagai informasi, pada 13 Januari lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan jajaran menteri kabinet Indonesia Maju menjadi penerima vaksin Covid-19 pertama, menandai dimulainya pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Tanah Air.

Baca:

Wah Ada Sinyal IHSG Bangkit! Cek Rekomendasi Saham-saham Ini

Secara kinerja fundamental, baru KAEF yang melaporkan kinerja keuangan per Desember 2020. KAEF mencetak laba bersihsebesar Rp 17,63 miliar di tahun lalu.

Besaran laba pada 2020 naik jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang mana perusahaan mengalami kerugian Rp 12,7 miliar.

Pembalikan kondisi dari rugi menjadi laba sejalan dengan naiknya pendapatan perusahaan dari penjualan pada tahun 2020 menjadi Rp 10 triliun atau tumbuh 6,44% secara tahuhan (Year-on-year/YoY). Pendapatan perusahaan selama tahun 2019 mencapai Rp 9,4 triliun.

Sementara kinerja keuangan INAF lumayan membaik per kuartal III tahun lalu. Ini ditunjukkan dengan terpangkasnya rugi bersih menjadi RP 18,88 miliar dari periode sebelumnya sebesar Rp 34,84 miliar.

Sebenarnya, selain trio saham pelat merah tersebut, sejumlah saham lainnya juga sempat ‘kecipratan’ sentimen vaksinasi Covid-19 pada Januari lalu.

Ambil contoh, PYFA sempat melonjak di Rp 1.480/saham pada 12 Januari, mengukir rekor kenaikan tertinggi dalam setahun. Contoh lainnya, TSPC melesat ke all time high dalam setahun ke Rp 2.050/saham di tanggal yang sama.

Kendati saham trio pelat merah plus SIDO dan SOHO yang ambles sejak awal tahun akibat kenaikan signifikan pada awal tahun, sejumlah saham-saham farmasi lainnya menarik untuk dicermati karena masih menunjukkan pertumbuhan secara YTD.

Sebut saja KLBF naik tipis 0,68%, MERK terapresiasi 1,22%, PYFA melesat 3,08% dan TSPC melonjak 9,64%.

NEXT: Ada Peringatan Pandemi dari WHO

Baca:

IRRA Mulai Sinergi Bisnis Laboratorium dengan Health Tech