Sab. Apr 24th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Baca Dulu 9 Informasi Ini, Penting untuk Pertimbangan Trading

A man walks past a screen at the Indonesia Stock Exchange building in Jakarta, Indonesia, September 6, 2018. REUTERS/Willy Kurniawan

Jakarta, Indonesia – Bursa saham domestik berpotensi menguat pada perdagangan hari ini, setelah di awal pekan, Senin (8/2/2021), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 0,93% ke 6.208,87. Sejumlah katalis positif berpotensi mendorong kenaikan IHSG & sejumlah kabar yang mempengaruhi transaksi saham. 

Pada perdagangan kemarin, total nilai transaksi perdagangan sehari kemarin mencapai Rp 15 triliun. Nilai ini jaih dari rerata nilai transaksi sepanjang Januari 2021 yang sebesar Rp 23 triliun.

Investor Asing pun melakukan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 211,57 miliar di pasar reguler.

Indeks Keyakinan konsumen (IKK) Indonesia pada Januari 2021 telah dirilis BI. IKK Januari turun dibandingkan bulan sebelumnya.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) semakin jauh dari level 100, ambang batas optimisme.

Bank Indonesia (BI) melaporkan, IKK pada Januari 2021 berada di 84,9. Lebih rendah dibandingkan dengan capaian pada Desember 2020 sebesar 96,5.

Penurunan keyakinan konsumen terutama disebabkan menurunnya ekspektasi terhadap kondisi ekonomi pada enam bulan yang akan datang.

Perkembangan tersebut disebabkan oleh perkiraan terhadap ekspansi kegiatan usaha, ketersediaan lapangan kerja, dan penghasilan ke depan yang tidak sekuat pada bulan sebelumnya.

Untuk memulai lagi perdagangan hari ini Selasa (9/2/2021), ada baiknya disimak sederet kabar emiten yang terjadi kemarin.

1. Ini Dia Skema Lengkap Holding Ultra Mikro versi Sri Mulyani

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan dan Kementerian BUMN mematangkan rencana pembentukan Sinergi Ultra Mikro. Sinergi ini akan menggabungkan tiga BUMN yaitu PT Pegadaian (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero) atau PNM, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang akan menjadi induk.

Nantinya pembentukan sinergi ini akan diawali dengan aksi korporasi penerbitan saham baru dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dari Bank BRI.

“Holding dilakukan melalui persetujuan rights issue dari BRI di mana negara akan ambil bagian seluruhnya dengan cara alihkan seluruh sahan Seri B dari PNM dan Pegadaian diserahkan ke BRI,” kata Menkeu.

Baca:

Berburu Cuan Jelang Imlek, Simak Sederet Saham Pilihan Ini

2. Ada Pandemi Selama 2020, BCA Bukukan Laba Rp 27,1 T

Laba bersih PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada 2020 turun 5% menjadi Rp 27,1 triliun. Penurunanan laba tersebut disebabkan peningkatan biaya pencadangan setelah pemerintah regulator menerapkan relaksasi merespons pandema covid-19.

Dalam paparan yang disampaikan Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F Haryn, dijelaskan selama 2020 rata-rata kredit tumbuh 4,7% secara tahunan.

“Sejalan dengan komitmen itu, rata-rata kredit tumbuh 4,7% secara tahunan (YoY), sedangkan total fasilitas kredit untuk bisnis meningkat 5% YoY,” kata Hera, dalam paparan publik, Senin (8/2/2021).

3. Perbaikan Smelter Mulai Mei, Produksi Nikel Vale Bakal Drop

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) berencana melakukan perbaikan tungku (furnace) smelter nikel mulai Mei 2021 selama sekitar enam bulan, sehingga diperkirakan bakal berdampak pada penurunan produksi nickel matte perusahaan pada 2021 ini.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Keuangan Vale Bernardus Irmanto kepada Indonesia.

Dia mengatakan, perbaikan fasilitas ini diperkirakan bakal tuntas pada November 2021 mendatang.

Baca:

Ajib! Saham-saham Bank Syariah Meroket, Dipimpin BANK & BRIS

4. Walah 66 Emiten Kena ‘Tato’ Bursa, Grup Bakrie hingga AirAsia

Sebanyak 66 perusahaan tercatat (emiten) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mendapat notasi khusus alias ‘tato’ bagi emiten yang bermasalah. Hal ini terangkum dalam publikasi otoritas bursa sampai dengan Jumat (5/2/2021) pukul 15.00 WIB.

Dari daftar tersebut, terdapat dua perusahaan BUMN, yakni PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) yang mendapat notasi E dan PT Timah Tbk (TINS) yang mendapat notasi M.

Seperti diketahui, Bursa telah memberlakukan kebijakan ini sejak akhir Desember 2018 yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana keberlangsungan usaha perusahaan tercatat dan menjadi salah satu upaya untuk melindungi investor dari emiten yang sedang bermasalah.

5. Chandra Asri Gandeng Produsen Mobil Listrik BYD, Ngapain ya?

Emiten petrokimia milik taipan Prajogo Pangestu, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), menggandeng produsen mobil listrik terkemuka di dunia, BYD.

Anak usaha PT Barito Pacific Tbk (BRPT ini memesan sebanyak 53 unit forklift listrik, yang merupakan jumlah armada forklift listrik terbesar di Indonesia yang disuplai oleh pabrikan asal China itu.

“Chandra Asri Petrochemical bermitra dengan BYD, produsen mobil listrik terkemuka di dunia, mengoperasikan 53 unit forklift listrik,” tulis manajemen TPIA, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).