Baru Melesat Sehari, Masa IHSG Mau Jeblok Lagi?

Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat 1,12% ke 5.347,82 pada perdagangan Kamis kemarin, mengakhiri penurunan dalam 3 hari beruntun.

Bank sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed yang menegaskan belum akan merubah kebijakan moneternya membuat bursa saham global menghijau. Sementara itu dari dalam negeri, Bank Indonesia (BI) juga mempertahankan suku bunga acuan di 3,5%, terendah sepanjang sejarah.

Namun, pada perdagangan hari ini, Jumat (19/3/2021), IHSG terancam merosot sebab bursa saham AS (Wall Street) jeblok pada perdagangan Kamis waktu setempat, dengan indeks Nasdaq merosot lebih dari 3%.

Jebloknya kiblat bursa saham dunia tentunya akan memberikan sentimen negatif ke pasar Asia hari ini. Indeks Nikkei Jepang dan Kospi Korea Selatan langsung masuk ke zona merah.

Yield obligasi (Treasury) AS yang melesat 8,8 basis poin ke 1,729% memberikan tekanan bagi pasar saham. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Januari 2020 atau sebelum virus corona dinyatakan sebagai pandemi, dan The Fed belum membabat habis suku bunganya menjadi 0,25% dan program quantitative easing (QE) belum dijalankan.

Baca:

Ada yang Cuan 40%, Ini Kinerja Saham Lo Kheng Hong Tahun Ini

Secara teknikal, IHSG akhirnya menguat setelah terkoreksi dalam 3 hari terakhir tetapi masih bertahan di atas rerata pergerakan 50 hari (moving average/MA50) yang menjadi support kuat.

Sementara itu Indikator stochastic pada grafik harian berbalik turun setelah mendekati wilayah jenuh beli (overbought).

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka suatu harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Stochastic pada grafik 1 jam sudah mencapai wilayah jenuh beli, yang berisiko membawa IHSG kembali turun.

jkseGrafik: IHSG 1 Jam
Foto: Refinitiv

IHSG sudah kembali ke atas 6.300 yang menjadi support terdekat. Jika level tersebut ditembus IHSG berisiko melemah ke 6.270 hingga 6.250.

Selama bertahan di 6.300, IHSG berpeluang menguat ke 6.390 hingga 6.400.

TIM RISET  INDONESIA 

Baca:

Yield Obligasi & Dolar AS Naik Lagi, Emas Jadi Kebanting nih

[Gambas:Video ]

(pap/pap)