Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Bingung Pilih Saham LQ45 yang Bagus tapi Murah? Cek nih Gan!

Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam 3 bulan terakhir perdagangan sudah melesat kencang 27,69%. Melesatnya IHSG tentu saja diakibatkan oleh terapresiasinya saham-saham berkapitalisasi pasar besar yang menjadi pemberat indeks.

Naiknya saham-saham big caps tersebut tentu saja meningkatkan valuasinya sehingga saham-saham tersebut tidak bisa dikatakan murah lagi apabila dibandingkan dengan periode pandemi corona sedang ganas-ganasnya.

Akan tetapi meskipun mayoritas sudah melesat, ternyata masih ada saham-saham berkapitalisasi pasar besar yang tergolong murah.

Berikut Tim Riset Indonesia mengkompilasi saham-saham konstituen Indeks LQ45 yang merupakan indeks dengan 45 anggota saham yang memiliki transaksi likuid dan prospek usaha yang cerah.

Tercatat emiten konstituen LQ45 termurah jatuh kepada PT Sri Rejeki Isman (SRIL). Apabila menggunakan metode valuasi harga dibandingkan dengan nilai bukunya (PBV, price to book value) maka PBV SRIL berada di angka 0,53 kali berada di bawah rata-rata industri tekstil di angka 1,5 kali.

Sedangkan apabila menggunakan metode valuasi harga dibandingkan dengan laba bersihnya (PER, price to earnings ratio) maka PER SRIL berada di angka 4,1 kali, lagi-lagi berada di bawah rata-rata industri tekstil yang terpaksa PER-nya masih minus karena terserang parah oleh pandemi virus corona.

Baca:

Hati-hati! 10 Saham Ini Babak Belur Kemarin, Mayoritas ARB

Meskipun demikian secara historis saham SRIL memang selalu dihargai murah oleh para investor karena perusahaan besutan Iwan Lukminto ini pernah terjerat kasus dugaan pencemaran sungai Bengawan Solo sehingga tata kelola perusahaan (GCG) dipertanyakan. Tercatat 3 tahun terakhir rata-rata PBV SRIL berada di kisaran 0,77 kali.

Selanjutnya di posisi kedua muncul nama saham batu bara PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Tercatat PBV ADRO masih tergolong rendah di angka 0,85 kali, bahkan angka ini masih berada di bawah rata-rata PBV saham batu bara di angka 1,5 kali.

Sedangkan apabila menggunakan metode valuasi PER maka ADRO memiliki PER sebesar 21,17 kali, tentunya lebih baik dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan batu bara lain yang pada tahun pandemi ini rata-rata masih merugi.

Murahnya harga ADRO sendiri karena harga sahamnya yang ‘hanya’ mampu melesat 27,43% selama 3 bulan terakhir ketika batu bara reli kencang ke level US$ 90/ton. ADRO sendiri merupakan saham batu bara raksasa dengan reli paling moderat pada periode tersebut.

Selanjutnya di posisi ketiga muncul nama emiten pabrikan kertas milik Sinarmas Group PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP),

Di atas kertas valuasi INKP masih terlihat murah dengan PBV di angka 1,07 kali dan PER di angka 11,96 kali dimana ini lebih baik daripada rata-rata industri di angka masing-masing 17,8 kali dan 1,1 kali.

Meskipun demikian, sejatinya valuasi PER perseroan terlihat murah karena laba bersih perusahaan berhasil melonjak pada kuartal pertama tahun ini setelah permintaan kertas yang meningkat dan rupiah yang melemah sehingga menguntungkan para importir seperti INKP.

Dengan prospek rupiah yang ke depannya cerah karena terpilihnya presiden AS dari Partai Demokrat Joe Biden. Secara historis, presiden AS dari Demokrat doyan menggelontorkan stimulus fiskal dalam jumlah besar yang akan menekan nilai dolar AS sehingga rupiah diprediksikan akan menguat. Hal ini yang menyebabkan INKP diragukan bisa mengulangi performa kinclongnya pada tahun ini.

Terakhir di posisi keempat dan kelima muncul nama emiten perbankan pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Negara alias Himbara yakni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).

Tercatat PBV kedua bank masih tergolong rendah di angka masing-masing 1,06 untuk BBNI dan 1,1 kali untuk BBTN. Angka ini tentu saja jauh lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata PBV sektor perbankan di angka 2,2 kali.

PBV dianggap lebih pas untuk menilai perbankan lantaran PBV memasukkan ekuitas sebagai perhitungan untuk mencari nilai buku. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, punya valuasi tinggi (overvalue) dan sebaliknya.

Selain PBV-nya yang masih murah, PER kedua perusahaan juga tergolong masih murah meskipun kedua bank harus terpangkas laba bersihnya karena melakukan pencadangan dalam jumlah besar sesuai dengan ketentuan PSAK 71 di tengah pandemi corona ini.

Tercatat PER BBNI berada di angka 20,4 kali sedangkan PER BBTN berada di angka 12,98 kali, keduanya lagi-lagi lebih murah dibandingkan dengan PER rata-rata perbankan di angka 25,2 kali.

TIM RISET INDONESIA

Baca:

Jangan Kaget Saham Farmasi ARB 4 Hari, Apa Mesti Serok Bawah?

[Gambas:Video ]

(trp/trp)