Sel. Mei 18th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Bitcoin Crash, Coronials Mau Balik ke Bursa Lokal Nggak Ya ?

Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, Indonesia – Pasar keuangan dalam negeri bervariasi sepanjang pekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menguat 0,26% ke 6.086,258. Sementara rupiah stagnan melawan dolar Amerika Serikat AS di Rp 14.560/US$.

Meski berakhir stagnan, tetapi rupiah membukukan catatanburuk, tidak pernah menguat dalam 9 pekan beruntun. Sebelumnya rupiah membukukan pelemahan dalam 8 pekan beruntun. Catatan tersebut merupakan yang terburuk sejak September 2015, saat itu rupiah membukukan pelemahan 11 pekan beruntun.

Kemudian dari pasar obligasi, harga Surat Berharga Negara (SBN) mayoritas mengalami penurunan. Hal tersebut tercermin dari kenaikanyieldnyaris di semua tenor. Hanya tenor 25 tahun yang mengalami penurunan 3,2 basis poin ke 7,604%. SBN tenor 10 tahun yang biasanya menjadi acuan investor sendiri mengalami kenaikan 5,3 basis poin menjadi 6,506%.

Pergerakanyieldberbanding terbalik dengan harga obligasi. Ketika harga turun,yieldakan naik begitu juga sebaliknya.

Pergerakan aset-aset IHSG dipengaruhi sentimen dari luar dan dalam negeri. Dari luar negeri, sentimen negatif datang dari India yang tengah mempertimbangkan menerapkanlockdowndi daerahMaharasahra, India akibat jumlah kasus Covid-19 yang masih tinggi. India kini menjadi negara dengan kasus positif Covid-19 terbesar kedua di dunia mengalahkan Brasil karena lonjakan infeksi dalam beberapa minggu terakhir.

Menteri Kesehatan India Harsh Vardhan dilaporkan menyalahkan gelombang kedua infeksi dan kurangnya komitmen warga untuk memakai masker dan mempraktikkan jarak sosial sebagai penyebab melonjaknya kasus Covid-19 di India, seperti dikutip dari International, Senin (14/4/2021).

Lonjakan kasus di India tersebut membuat investor waspada, apalagi di Indonesia sudah memasuki bulan Ramadhan dengan fenomena mudik. Meski pemerintah sudah melarang mudik, tetap saja pelaku pasar sedikit was-was.

Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) merilis World Economic Outlook edisi April merilis proyeksi terbaru pertumbuhan ekonomi.

Dalam laporan tersebut, IMF memberikan proyeksi yang optimistis terhadap perekonomian global, tetapi tidak untuk kawasan ASEAN, termasuk Indonesia.

Dalam laporan tersebut, IMF merevisi pertumbuhan ekonomi global di tahun ini menjadi 6%, dibandingkan dengan proyeksi yang diberikan bulan Januari lalu yang sebesar 5,5%.
Amerika Serikat memimpin pemulihan ekonomi. Pada bulan Januari lalu IMF memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,1%, tetapi kini direvisi menjadi 6,4%.

Indonesia sebaliknya, IMF kembali menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun ini menjadi 4,3%, dibandingkan proyeksi yang diberikan bulan Januari lalu sebesar 4,8%. Pada bulan Oktober tahun lalu, IMF bahkan memproyeksikan produk domestik bruto (PDB) Indonesia akan melesat 6,1%.

Sementara itu dari dalam negeri BPS melaporkan nilai ekspor Indonesia bulan lalu adalah US$ 18,35 miliar. Naik 30,47% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy). Sementara dibandingkan dengan Februari 2021 (month-to-month/mtm), nilai ekspor Indonesia tumbuh 20,31%.

Sementara impor pada Maret 2021 adalah US$ 16,79 miliar. Tumbuh 25,73% yoy, dan 26,55% mtm.

Dengan demikian, neraca perdagangan periode Maret 2021 mencatatkan surplus US$ 1,56 miliar.

Konsensus pasar yang dihimpun Indonesia memperkirakan ekspor tumbuh 12,085% yoy. Sementara impor diproyeksi naik 6,925% yoy sehingga neraca perdagangan bakal surplus US$ 1,6 miliar.

Ekspor yang tumbuh positif berarti permintaan dari luar negeri mengalami peningkatan, yang tentunya menjadi kabar bagus saat dunia mencoba memulihkan perekonomian dari keterpurukan akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19).

Sementara jika impor tumbuh positif, artinya perekonomian dalam negeri terus menunjukkan pemulihan. Bahkan dengan impor yang meroket, memberikan gambaran roda bisnis di dalam negeri mulai terakselerasi.