Sab. Mar 6th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Bitcoin Menguat, Harganya Tembus Rp 821 Juta per Keping

BItcoin

Jakarta, Indonesia – Harga cryptocurrency bitcoin terus menguat dengan naik ke level tertinggi setelah pada Jumat (19/2/2021) lalu memperpanjang reli dua bulan yang membawa kapitalisasi pasarnya di atas US$ 1 triliun atau sekitar Rp 14 kuadriliun (asumsi Rp 14.000/US$).

Pada Minggu (21/2/2021), harga Bitcoin naik ke rekor US$ 58.354 atau sekitar Rp 821 juta per keping. Kenaikan ini mengambil keuntungan mingguan menjadi sekitar 20%, dan telah melonjak sekitar 100% tahun ini, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.

Baca:

Semua Gegara Elon Musk, Pasar Bitcoin Tembus Rp 14.000 T

Sebelumnya, harga bitcoin diperdagangkan di bawah US$ 54.000 (Rp 756 juta) per keping pada hari Jumat, dan naik di atas US$ 55.000 (Rp 770 juta) di kemudian hari, menurut Coin Metrics. Harga bitcoin sendiri terlihat naik sekitar 350% dalam jangka waktu enam bulan terakhir.

Keuntungan Bitcoin telah didorong oleh bukti bahwa salah satu cryptocurrency ini semakin diterima di kalangan investor dan perusahaan arus utama, seperti Tesla Inc, Mastercard Inc, dan BNY Mellon.

Baca:

Diserang Kanan Kiri, Bitcoin “Bodo Amat” Cetak Rekor Terus

Bitcoin menjadi sorotan banyak orang setelah pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk memuji cryptocurrency ini, sehingga harganya terus melonjak ke rekor tertinggi.

Tesla juga mengubah sebagian dari kas neracanya menjadi bitcoin awal tahun ini dan mengatakan akan mulai menerima mata uang digital bitcoin sebagai pembayaran, sebuah langkah yang memicu lebih banyak minat pada mata uang tersebut.

Namun, langkah beralih ke bitcoin ini juga mendapatkan pertentangan. Ekonom kawakan berdarah Yahudi-Iran Nouriel Roubini, atau yang dikenal dengan Dr. Doom, menyebut sistem moneter zaman batu bahkan masih lebih baik dari bitcoin.

“Secara fundamental, bitcoin bukanlah mata uang. Itu bukan unit akun, juga bukan alat pembayaran yang terukur, dan bukan penyimpan nilai (store of value) yang stabil,” kata Roubini, dilansir Business Insider pada Rabu (18/2/2021).

“Menyebut itu mata uang kripto adalah keliru, itu bahkan bukan sebuah aset.”

[Gambas:Video ]

(sef/sef)