Ming. Mei 16th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Bukan India, China Picu Harga Batu Bara Tembus Lagi ke US$ 90

Pekerja melakukan bongkar muat batu bara di Terminal Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/2/2021). Pemerintah telah mengeluarkan peraturan turunan dari Undang-Undang No. 11 tahun 2020 tentang Cipta Kerja. Adapun salah satunya Peraturan Pemerintah yang diterbitkan yaitu Peraturan Pemerintah No.25 tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral.  (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, Indonesia – Lonjakan kasus Covid-19 di India yang tak kunjung turun seolah tak digubris oleh harga batu bara. Bukannya menurun, harga si batu legam justru mengalami kenaikan. 

Krisis kesehatan di India semakin tak terbendung. Jumlah kasus infeksi harian Covid-19 di India tembus hampir 400 ribu. Sementara angka kematian harian mencapai lebih dari 3.00 orang.

Sebagai negara dengan konsumsi batu bara terbesar di kawasan Asia setelah China seharusnya kembali diterapkannya lockdown membuat permintaan batu bara India drop begitu juga harganya. Namun kenyataan berbicara sebaliknya.

Baca:

PDB RI Kuartal I-2021 Diramal Negatif, IHSG-Rupiah Apa Kabar?

Sepanjang minggu lalu harga kontrak batu bara ICE Newcastle naik lebih dari 6%. Di akhir perdagangan pekan lalu harga batu bara termal acuan tersebut naik 1,22% dan semakin mendekati US$ 92/ton. 

Salah satu pemicu naiknya harga batu bara adalah kenaikan harga batu bara China yang masih disebabkan oleh ketatnya pasokan di tengah kenaikan permintaan. Harga batu bara termal acuan China Qinhuangdao naik lagi 5,9% minggu lalu dan harga batu bara tembus RM 807/ton. 

Kenaikan harga yang fantastis ini membuat kebijakan kuota impor direlaksasi. Konsumsi listrik di China juga diperkirakan meningkat. China Electricity Council (CEC) memperkirakan konsumsi listrik tahun ini naik 7-8% dibanding tahun 2020.

Pada Februari lalu CEC meramal konsumsi listrik naik 6-7%. Namun setelahnya konsumsi listrik diramal naik lebih tinggi di angka 7-8%.

Lebih lanjut, CEC menyatakan pertumbuhan konsumsi listrik bisa melebihi 8% tahun ini. Dengan catatan suhu musim panas yang tinggi mempengaruhi sebagian besar negara untuk waktu yang lama yang secara signifikan akan meningkatkan permintaan pendingin udara.

Di saat yang sama inspeksi wilayah tambang oleh pemerintah setempat juga mengganggu jalannya produksi sehingga harga naik. Argus Media melaporkan Provinsi Shanxi sebagai penghasil batu bara terbesar kedua di China telah menghentikan operasi di empat tambang karena melanggar aturan keselamatan.

Hal ini dapat mengurangi pasokan batu bara dalam negeri China. Operasi di tambang dihentikan setelah administrasi darurat Shanxi melakukan pemeriksaan keamanan di 24 tambang lokal selama 11-21 April. 

TIM RISET INDONESIA

Baca:

Wow! PMI Manufaktur RI Cetak Rekor, IHSG Menguat Dong?

[Gambas:Video ]

(twg/twg)