Ming. Mei 16th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Bursa Asia Mayoritas Menguat, hanya Shanghai yang Loyo

Jakarta, Indonesia – Bursa saham Asia mayoritas dibuka di zona hijau pada perdagangan Kamis (29/4/2021), karena investor merespons positif terhadap keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang tetap mempertahankan kebijakan suku bunga longgarnya.

Tercatat indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,68%, Straits Times Index (STI) Singapura bertambah 0,19%, dan KOSPI Korea Selatan terapresiasi 0,41%.

Sedangkan untuk indeks Shanghai Composite China pada pagi hari ini dibuka cenderung melemah, yakni melemah tipis 0,07%.

Sementara untuk indeks Nikkei Jepang hari ini ditutup karena sedang libur nasional memperingati Hari Showa.

Investor di Asia akan mengamati saham pemasok Apple di Asia-Pasifik, setelah raksasa teknologi yang berbasis di Cupertino, California itu melaporkan keuangan kuartal pertama tahun 2021 cukup positif, dengan penjualan naik 54% dari posisi tahun lalu.

Baca:

IHSG Jajal 6.000, Pantengin Saham-saham Prospek Cuan Ini!

Beralih ke AS, Bursa saham Wall Street “berdarah-darah” pada perdagangan Rabu (28/4/2021) waktu setempat, meski bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) menyiratkan bahwa kebijakan moneter longgar akan dipertahankan beberapa saat walaupun inflasi meninggi.

Indeks Dow Jones Industrial Average drop 0,48% ke 33.820,38 karena terseret koreksi saham Boeing, S&P 500 berkurang 0,08% ke 4.183,18 dan Nasdaq surut 0,28% ke 14.051,03.

Saham Boeing anjlok 3% setelah perseroan melaporkan rugi bersih kuartal I-2021 yang merupakan kerugian 6 kuartal berturut-turut. Saham Microsoft limbung 2,8% meski kinerjanya terbukti melampaui ekspektasi analis dengan pertumbuhan pendapatan terbesar sejak 2018.

Sedangkan, induk usaha Google yakni Alphabet melaporkan kinerja yang melampaui ekspektasi kemarin, sehingga saham raksasa teknologi melesat lebih dari 3%. Perseroan mencetak kenaikan pendapatan hingga 34% secara tahunan.

Bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) mengumumkan keputusan mempertahankan suku bunga acuan di level 0-0,25%, dan mengakui bahwa inflasi memang naik bersamaan dengan penguatan angka tenaga kerja dan aktivitas ekonomi berkat kemajuan vaksinasi dan kuatnya dukungan kebijakan.

“Dengan capaian inflasi yang nyaman di bawah target jangka panjang, Komite [Pasar Terbuka Federal] membidik inflasi yang berkecukupan di atas 2% untuk beberapa waktu sehingga rerata inflasi 2% di jangka pendek dan panjang masih bergerak di kisaran 2%,” tutur Fed dalam pernyataan resmi yang dikutip International.

Pimpinan bank sentral, lanjut mereka, ingin mempertahankan kebijakan moneter akomodatif hingga semua itu tercapai. Dalam konferensi pers, Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk bicara penghentian pembelian obligasi di pasar.

Menyambut pernyataan tersebut, indeks S&P 500 menyentuh level tertinggi harian, tetapi kemudian berbalik melemah setelah Powell mengakui bahwa beberapa harga aset mungkin sudah tinggi dan ada beberapa gelembung kecil atau busa di pasar saham.

“Pertanda apapun yang muncul dalam pernyataan Dewan Gubernur atau di konferensi pers setelah itu mengenai kemungkinan penghentian kebijakan pelonggaran kuantitatif-kapan dan secepat apa-akan menggerakkan pasar saham dan obligasi,” tutur Kepala Perencana Investasi Leuthold Group Jim Paulsen, kepada International.

Sementara itu, Presiden AS Joe Biden bakal mengumumkan detil rencana belanja US$ 1,8 triliun dan kebijakan pajak yang ditujukan untuk membantu warga AS di hadapan Kongres pada malam nanti waktu setempat (siang waktu Indonesia).

Rencana tersebut termasuk penaikan pajak penghasilan (Pph) menjadi 39,6% bagi kaum terkaya AS dan keuntungan transaksi di pasar modal bagi mereka yang memperoleh penghasilan di atas US$ 1 juta.

TIM RISET INDONESIA

Baca:

Powell ‘Yes’ Biden ‘No’, ke Mana IHSG Melangkah Hari Ini?

[Gambas:Video ]

(chd/chd)