Kam. Apr 15th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Dear Market! Cek 7 Kabar Pasar Ini Sebelum Cari Cuan

Jakarta, Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di teritori positif pada perdagangan Rabu kemarin (7/4) walaupun tekanan jual pelaku pasar asing cukup agresif. Sampai perdagangan berakhir, IHSG menguat 0,56% ke level 6.036,61 poin.

Data perdagangan menunjukkan, nilai transaksi harian kemarin mencapai Rp 8,93 triliun dengan frekuensi sebanyak 1,05 juta kali. Pelaku pasar asing melakukan aksi jual bersih senilai Rp 588,20 miliar.

Sebelum memulai transaksi pada perdagangan Kamis ini (8/4), cermati aksi dan peristiwa emiten berikut ini yang dihimpun dalam pemberitaan Indonesia:

1.Belum Bayar Utang & Digugat PKPU, Ini Respons Waskita Beton

Manajemen PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) menyebutkan saat ini memiliki utang senilai total Rp 15 miliar kepada vendor pemasok material alam. Atas utangnya ini, perusahaan telah digugat penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) sementara ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat oleh PT Hartono Naga Persada.

Utang ini masing-masing bernilai Rp 5 miliar dan Rp 10 miliar yang disebabkan tertundanya pembayaran kepada vendor. Sebab perusahaan mengakui saat ini mengalami penurunan kinerja akibat pandemi, proyek perusahaan juga terhambat pengerjaannya dan penundaan pembayar dari pemberi kerja.

“Terkait informasi gugatan terhadap perseroan yang tengah beredar saat ini, dapat kami informasikan bahwa pendaftaran tuntutan PKPU terkait dengan permintaan pelunasan utang sebesar Rp 5 miliar dan Rp 10 miliar. Gugatan tersebut dilayangkan oleh vendor pemasok material alam,” tulis manajemen WSBP, Rabu (7/4/2021).

Baca:

Punya Saham Batu Bara? Cek Dulu Head to Head PTBA-INDY dkk

2.Pandemi, Pendapatan Emiten Migas Bakrie Drop di 2020

Emiten migas Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berhasil mencatatkan laba bersih US$ 53,65 juta atau setara dengan Rp 751,1 miliar (kurs 14.000) di tahun pandemi 2020.

Laba bersih ini naik 92% jika dibandingkan dengan tahun 2019 yang sebesar US$ 28 juta atau setara Rp 392 miliar.

Meski memperoleh kenaikan laba yang cukup signifikan, selama 2020 lalu ENRG justru mengalami penurunan pendapatan sebesar 3%. Pendapatan ini turun dari tahun 2019 sebesar US$ 334,34 juta atau setara Rp 4,68 triliun menjadi US$ 324,88 juta atau setara Rp 4,54 triliun.

Pada pos ekuitas, selama 220 ENRG mengalami kenaikan ekuitas sebesar 99,97% dari US$ 106,10 juta atau setara Rp 1,48 triliun menjadi US$ 212,17 juta atau setara Rp 2,97 triliun. Selain itu, selama tahun 2020 terjadi peningkatan produksi minyak dan gas (migas), sedangkan harga jual mengalami penurunan.

3.Demi Baterai Listrik IBC, ANTM Siapkan Capex Rp 2,8 T

Emiten pertambangan milik negara, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berencana mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 2,84 triliun tahun ini.

Sekretaris Perusahaan Antam, Kunto Hendrapawoko mengatakan, belanja modal tersebut akan digunakan untuk pengembangan yang bersifat rutin serta pengembangan usaha dengan sumber pendanaan dari kas internal dan opsi pendanaan lainnya.

“Capex tahun ini rencana Rp 2,84 triliun, di antaranya untuk pengembangan bersifat rutin dan pengembangan usaha dalam bentuk project, yang terbesar untuk pengembangan usaha,” kata Kunto, dalam keterangannya kepada awak media usai RUPS Tahunan, Rabu (6/4/2021).

Beberapa proyek yang menjadi fokus Antam adalah penyelesaian pabrik feronikel di Halmahera Timur, kerja sama dengan Inalum (MIND ID) dan beberapa proyek lainnya.

4.Pandemi, Omzet Produsen Susu Ultra Milk Drop Jadi Rp 5,9 T

Emiten konsumer milik taipan Sabana Prawirawidjaja, PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), mencatatkan total pendapatan menjadi Rp 5,96 triliun di sepanjang tahun lalu, turun 4,11% dari posisi yang sama di tahun 2019 sebesar Rp 6,22 triliun atau berkurang Rp 255,7 miliar.

Berdasarkan laporan keuangan publikasi, meski pendapatan turun, perusahaan produsen minuman asal Jawa Barat dengan produk utama susu kemasan, Ultra Milk ini justru mampu mencetak laba bersih naik 6,53% menjadi Rp 1,1 triliun dari Rp 1,03 triliun di tahun 2019. Laba per saham ikut naik menjadi Rp 100 dari sebelumnya Rp 89 di tahun 2019.

Selaras dengan turunnya pendapatan dari penjualan, beban pokok penjualan perusahaan juga ikut turun 3,66% menjadi Rp 3,73 triliun dari sebelumnya Rp 3,88 triliun.

NEXT: Kabar Emiten Lainnya, Simak

Baca:

Jangan Kelewat! Intip Saham-saham Prospek Cuan Hari Ini