Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Dear Trader yang Pegang Dolar AS, Hati-hati Ini Ramalan BI!

valas

Jakarta,  Indonesia – Bank Indonesia (BI) meyakini kurs dolar Amerika Serikat (AS) melemah dalam jangka menengah panjang. Meskipun dalam sepekan terakhir, nilai tukar rupiah memang masih bergerak tanpa perlawanan terhadap dolar AS.

Kurs rupiah sempat sempat terapresiasi hingga menyentuh level Rp 13.900 per dolar AS, tapi sayangnya nilai tukarnya sudah bertengger lagi di level Rp 14.300 per dolar AS. Para analis bahkan beranggapan rupiah bisa saja sampai ke Rp 14.600 per dolar AS dalam waktu dekat.

Haryadi Ramelan, Kepala Departemen Pengelolaan Devisa, sebagai Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI menjelaskan dalam kondisi sekarang, negara berkembang seperti Indonesia menjadi satu tempat tujuan menarik oleh para pemegang dana.

Baca:

Ultimatum OJK: Bank Muamalat dkk Mesti Listing di Bursa!

Negara maju mematok suku bunga yang rendah, sehingga imbal hasil dari penempatan dananya jauh lebih kecil dibandingkan Indonesia. Suku bunga acuan 7DRR sebesar 3,5% dan yield Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun di atas 6%.

“Skenarionya dolar AS akan melemah dalam jangka menengah panjang, dan memberikan ruang gerak bagi stock market dan bond market kita,” kata Haryadi seperti dikutip, Rabu (10/3/2021).

Dia mengatakan posisi rupiah saat ini masih jauh dari fundamentalnya, sehingga ruang penguatan terbuka cukup lebar. Apalagi indikator perekonomian dalam negeri terus menerus menunjukan perbaikan, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi hingga neraca pembayaran.

“Kami yakin. Rupiah masih undervalue, ruang penguatan rupiah masih ada,” tegas Haryadi.

Sementara itu kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sekarang, menurut Haryadi hanya bersifat sementara. Pelemahan dalam beberapa hari terakhir akibat sentimen negatif yang datang dari global.

“Yang terjadi hari ini sebuah dinamika pasar yang merupakan technical dan sentimen pasar, tapi pergerakan rupiah masih dalam koridor yang kita prediksi,” ungkapnya.

Ada isu yang berkembang kondisi taper tantrum seperti yang terjadi pada 2013 akan kembali terulang. Saat itu dana yang tadinya bertengger di dalam negeri mendadak kembali ke AS. Rupiah dalam waktu seketika anjlok dan ekonomi Indonesia pun tumbuh semakin melambat.

Munculnya isu tersebut, dipicu oleh kenaikan pesat imbal hasil atau yield US Treasury dalam waktu singkat ini akibat pelaku pasar melihat perekonomian AS akan membaik, dan inflasi kemungkinan akan naik.

Ketika inflasi naik, investor obligasi tentunya melihat bunga obligasi akan turun dan merugikan, sehingga melepas kepemilikannya, alhasil yield menjadi naik.

“Artinya kalau membandingkan situasi 2013 dan skenario kemungkinan tapering di 2021, itu sesuatu yang berbeda kondisinya,” tegas Haryadi

Atas kondisi pelemahan ini BI memastikan akan selalu berada di pasar untuk menjaga pergerakan nilai tukar rupiah. Sederet kebijakan siap diluncurkan apabila mengganggu keseimbangan permintaan dan penawaran mata uang sesuai dengan mekanisme pasar.

“Kita siap menjaga rupiah sesuai dengan fundamentalnya,” ucapnya.

Baca:

Bersama Ringgit Malaysia, Rupiah Jadi Mata Uang Terburuk Asia

Data Refinitiv mencatat, pada perdagangan Selasa kemarin (9/3), nilai tukar rupiah sukses memangkas pelemahan melawan dolar AS. Meski demikian, pelemahan rupiah masih cukup besar dan menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia kemarin.

Rupiah dibuka melemah 0,21% ke Rp 14.380/US$. Setelahnya rupiah langsung jeblok 0,84% ke Rp 14.470/US$ yang merupakan level terlemah sejak 4 November 2020. Rupiah berhasil memangkas pelemahan, dan berada di level Rp 14.400/US$, dan tertahan di level tersebut nyaris sepanjang perdagangan kemarin.

Di penutupan perdagangan rupiah berada di level Rp 14.390/US$, melemah 0,28% di pasar spot. Mata uang utama Asia bervariasi melawan dolar AS kemarin. Hingga pukul 15:07 WIB Selasa kemarin, peso Filipina menjadi yang terbaik dengan penguatan 0,53%.

Sementara itu, ringgit Malaysia menjadi yang terburuk dengan pelemahan 0,37%, dan rupiah berada di urutan kedua terburuk.

Baca:

IHSG Ditutup Terkoreksi di 6.119, Apa Penyebabnya?

[Gambas:Video ]

(tas/tas)