Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Dolar AS ‘Ngamuk’, Emas Jadi Korban

FILE PHOTO: Gold bullion is displayed at Hatton Garden Metals precious metal dealers in London, Britain July 21, 2015. REUTERS/Neil Hall/File Photo

Jakarta, Indonesia – Minggu ini Dewi Fortuna sedang tidak berpihak pada emas. Harga logam mulia tersebut anjlok ke bawah US$ 1.850/troy ons di saat greenback mengalami rebound.

Emas sempat menguat di pekan pertama tahun 2021. Namun setelah itu harga bullion longsor. Dalam dua pekan terakhir harga emas ambles 3,6%. Pada periode yang sama indeks dolar yang mengukur kinerja greenback terhadap kelompok mata uang lain menguat hampir 1%.

Baca:

No Kaleng-kaleng! Biden Tebar Stimulus Raksasa US$ 1,9 T

Emas dan dolar AS memang punya korelasi negatif yang kuat. Artinya pergerakan emas dan dolar AS saling berlawanan. Ketika dolar AS menguat harga emas cenderung tertekan.

Alasannya pun beragam. Emas ditransaksikan dalam mata uang Paman Sam. Ketika dolar AS mengalami apresiasi artinya harga emas menjadi semakin mahal sehingga mengurangi minat beli terhadap aset yang tak berimbal hasil tersebut.

Baca:

Efek Joe Biden & Neraca Dagang RI Bikin Rupiah Juara Asia

Selain itu, emas juga punya nilai historis dan pernah digunakan sebagai tools kebijakan moneter. Berbeda dengan mata uang fiat yang bisa dicetak dalam jumlah besar oleh bank sentral kapan saja terutama saat krisis seperti sekarang ini.

Dalam pandangan kaum monetarist, pasokan uang yang berlimpah hanya akan menimbulkan fenomena kenaikan harga di kemudian hari alias inflasi.

Pandemi Covid-19 di tahun 2020 membuat kebijakan makroekonomi global menjadi akomodatif. Bank sentral memangkas suku bunga acuan dan membeli aset-aset keuangan terutama obligasi pemerintah (quantitative easing/QE) untuk menginjeksi likuiditas ke sistem keuangan.

Otoritas fiskal juga menempuh kebijakan yang ekspansif melalui pengucuran stimulus dengan nominal yang jumbo. Bersama dengan membengkaknya anggaran, pasar melihat adanya risiko inflasi yang tinggi dan instabilitas ekonomi di masa mendatang akibat melonjaknya utang.

Seperti biasa, karakteristik pasar yang forward looking mulai mengantisipasinya. Emas yang jadi salah satu aset yang banyak digunakan untuk lindung nilai (hedging) dari risiko inflasi dan buruknya kinerja aset-aset investasi lainnya mengalami kenaikan harga.

Tahun 2020 telah menjadi saksi bagi keperkasaan emas. Tahun lalu harga logam kuning itu melesat lebih dari 20% melampaui kinerja saham. Namun belakangan ini emas loyo. Bahkan ketika ada proposal untuk menggelontorkan stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun yang disampaikan oleh Presiden AS terpilih Joe Biden. 

Kenaikan kasus Covid-19 di banyak negara dan memicu respons penerapan lockdown oleh pemerintah dan membuat pelaku pasar berspekulasi mimpi buruk yang terjadi pada Maret tahun lalu akan terulang.

Saat pasar keuangan global ambrol tahun lalu investor lebih memilih uang tunai cash sebagai aset yang dipegang. Namun bukan sembarang cash yang diinginkan, melainkan dolar AS yang dikenal sebagai safe currency.

Indeks dolar yang sudah tertekan hebat ke level terendah hampir tiga tahun pun akhirnya menemukan momentum untuk rebound. Kenaikan dolar AS inilah yang membuat harga emas anjlok di pasaran.

Meskipun pelaku pasar menilai tren pelemahan dolar AS akan berlanjut hingga tahun ini dan Federal Reserves sebagai bank sentral AS menegaskan tak akan menaikkan suku bunga acuan setidaknya hingga tahun 2023 belum mampu menjadi katalis positif untuk emas minggu ini.

TIM RISET  INDONESIA

[Gambas:Video ]

(twg/twg)