Jakarta, Indonesia – Harga mata uang digital alias kripto Bitcoin pada perdagangan Selasa (25/5/2021) sempat terbang ke level hampir mendekati US$ 40.000 atau setara dengan Rp 572 juta per koin (kurs Rp 14.300/US$). Hal ini dikarenakan cuitan CEO Tesla Elon Musk mengenai prospek mata uang kripto itu.
Dikutip International. Harga cryptocurrency paling populer di dunia itu diperdagangkan pada Selasa di posisi US$ 39.824 (Rp 571 juta) sebelum ditetapkan ke US$ 37.615,45 (Rp 539 juta) pada penutupan sesi, menurut data dari CoinDesk.
Harga Ethereum juga naik sekitar 4,1% menjadi US$ 2.546,56 (Rp 36,5 juta) dalam 24 jam terakhir, sementara Dogecoin telah mengalami penurunan harga sekitar 5,9% menjadi 34 sen per koin (Rp 4.800).
Musk yang merupakan salah satu orang terkaya sejagad sebelumnya mencuitkan sesuatu yang dianggap sebagai sentimen positif bagi Bitcoin di Twitter. Ia mengatakan bahwa ide penambangan Bitcoin menggunakan energi terbarukan sangat potensial.
Baca:Bos Hedge Fund Global Lebih Memilih Bitcoin daripada Obligasi |
“Berbicara dengan penambang Bitcoin Amerika Utara. Mereka berkomitmen untuk mempublikasikan penggunaan energi terbarukan saat ini dan yang direncanakan serta meminta penambang untuk melakukannya. Berpotensi menjanjikan,” cuit Musk dalam akun Twitternya.
[Gambas:Twitter]
Musk telah menjadi pendukung besar mata uang digital ini, memicu reli harga koin digital, termasuk Bitcoin, beberapa kali dalam setahun terakhir. Kicauan dan komentarnya di Twitter seputar cryptocurrency sering membuat harga melonjak atau anjlok.
CEO Microstrategy Michael Saylor menindaklanjuti tweet Musk. Dia mengatakan pihaknya mengadakan pertemuan dengan CEO Tesla dan beberapa penambang Bitcoin yang mengarah pada pembentukan Dewan Pertambangan Bitcoin, yang akan mempromosikan upaya penambangan yang keberlanjutan.
Sebelumnya harga Bitcoin sempat ambles pekan ini terjadi setelah gejolak di pasar kripto yang membuat harganya turun di bawah US$ 32.000 pada Minggu.
Penambangan Bitcoin membutuhkan energi yang sangat besar. Hasilnya, Bitcoin memiliki jejak karbon yang sebanding dengan Selandia Baru, menghasilkan 36,95 megaton CO2 setiap tahun, menurut Digiconomist. Hal ini membuat Tesla menarik keputusannya untuk mengizinkan pembayaran melalui Bitcoin untuk transaksi pembelian mobil listriknya.
Selain itu penurunan harga Bitcoin cs juga terjadi setelah otoritas di China dan AS untuk memperketat regulasi dan kepatuhan pajak terhadap mata uang kripto.
Otoritas China menyerukan regulasi yang lebih ketat tentang penambangan dan perdagangan kripto pada Jumat (21/5/2021), dan Departemen Keuangan AS mengumumkan pada Kamis (20/5/2021) bahwa kegiatan itu akan membutuhkan peraturan crypto yang lebih ketat.
Baca:Diam-diam The Fed Mau Garap Dolar Digital, Siapa Tersingkir? |
[Gambas:Video ]
(tas/tas)