Kam. Apr 22nd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Elon Musk Was-was Stok Baterai Tesla Menipis, Ini Rencananya

FILE PHOTO: Tesla Chief Executive Office Elon Musk speaks at his company's factory in Fremont, California, U.S., June 22, 2012.   REUTERS/Noah Berger/File Photo

Jakarta, Indonesia – CEO Tesla Elon Musk mendorong pemasok nikel untuk menambang lebih banyak logam mineral itu untuk produksi baterai kendaraan listriknya. Namun perusahaan mobil listrik asal AS ini berpotensi akan mengalihkan sumber bahan baku baterai untuk Model 3 Standard Range ke tipe lain.

Hal tersebut diungkapkan oleh Elon Musk melalui cuitan di akun Twitternya @elonmusk.

[Gambas:Twitter]

“Nikel menjadi perhatian terbesar kami dalam meningkatkan produksi baterai lithium-ion,” cuit Elon, dikutip Minggu (28/2/2021).

Adanya masalah itu membuat salah satu orang terkaya sejagad itu memutuskan untuk memilih alternatif baterai yang ada, yakni menggunakan baterai tipe LFP atau baterai Lithium Iron Phosphate.

“Itulah mengapa kami beralih menggunakan katoda berbahan besi [baterai Lithium Iron Phosphate] pada mobil listrik [Tesla Model 3] tipe Standard Range. Alasannya karena jumlah bahan baku besi dan lithium sangat melimpah.”

[Gambas:Twitter]

Dikutip dari Carscoops.com, baterai LFP sebetulnya sudah digunakan di kendaraan Tesla Model 3 Standard Range yang dipasarkan di China. Penggunaan baterai tipe ini juga dinilai menjadi salah satu alasan kenapa Model 3 Standard Range bisa dijual dengan harga lebih terjangkau di Tiongkok.

Baca:

Luhut Diam-Diam Bertemu Anak Buah Joe Biden, Ada Apa?

Sebagai informasi, selama ini baterai untuk mobil listrik terbagi dalam beberapa tipe di antaranya baterai lithium NCA (Nickel Cobalt Aluminum Oxide), Lithium NMC (Nickel Manganese Cobalt Oxide), dan lithium LFP (Lithium Iron Phosphate) atau dikenal sebagai baterai lithium besi fosfat yang menggunakan LiFePO sebagai bahan katoda.

Dari sisi perbedaan, beberapa literatur teknologi mencatat perbedaan ketiganya baik NCA, NMC, maupun LFP ada pada kapasitas voltase yang dihasilkan.

Baterai jenis NCA memiliki material nikel yang mendominasi dibanding material lainnya, sementara di NMC hampir merata, dan komposisi LFP adalah Lithium, Iron, dan Phosphat. Persentase kandungan nikel dalam NCA bisa mencapai 88%, NMC berkisar 33%.

Dokumen Kajian Kebijakan Pengembangan Industri Battery Kendaraan Listrik Nasional dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, publikasi Agustus 2020, mencatat bahwa salah satu material katoda yang saat ini terus dikembangkan adalah LiFePO4.

Bahan katoda ini memiliki kelebihan harga terjangkau, tidak beracun, mudah didapatkan, thermal dan chemical stability yang tinggi, performa elektrokimia yang stabil pada kondisi terisi penuh dan densitas energi yang tinggi (170 mAh/g), serta life cycle yang lebih panjang.

Namun kelemahan LiFePO4 nilai konduktivitasnya rendah sekitar 10-9 S/cm, berdampak pada mobilitas ionik lithium juga rendah dan kapasitas energinya menurun.

Baca:

Tak Ikut Tesla Elon Musk, Bill Gates Ogah Beli Bitcoin

[Gambas:Video ]

(tas/tas)