Sab. Apr 24th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Emas Ambles, Investor Pindah Borong Saham Tesla dan Bitcoin

Gold bars and coins are stacked in the safe deposit boxes room of the Pro Aurum gold house in Munich, Germany,  August 14, 2019. REUTERS/Michael Dalder

Jakarta, Indonesia – Harga logam mulia emas anjlok signifikan minggu lalu. Koreksi sebesar 2,54% membuat harga emas anjlok ke bawah US$ 1.900/troy ons. Investor kini beralih ke aset-aset yang memberikan cuan lebih tebal dan cenderung spekulatif.

Pada perdagangan perdana pekan ini, Senin (11/1/2021), harga logam mulia emas mengalami lanjut melemah dengan koreksi0,25 sebesar %. Harga emas dibanderol di US$ 1.843,4/troy ons di pasar spot pukul WIB.

Menurut sebagian analis kenaikan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS dan rebound indeks dolar membuat harga emas loyo. Maklum emas merupakan aset yang tak memberikan imbal hasil. 

Minat (appetite) untuk memegang aset berupa komoditas emas sangat tergantung pada biaya peluangnya (opportunity cost). Kenaikan imbal hasil instrumen pendapatan tetap pemerintah AS bertenor 10 tahun dan greenback membuat opportunity cost emas meningkat.

Kini yield nominal obligasi pemerintah AS yang menjadi acuan tersebut tembus 1% dan indeks dolar menguat kembali ke level 90. Tren pelemahan dolar AS diperkirakan berlanjut di tahun ini.

Dolar AS diproyeksikan melemah 5-10% di tahun 2021 setelah ambles 6,7% tahun lalu. Namun koreksi yang sudah sangat dalam memang berpotensi menimbulkan fenomena technical rebound mengingat harga suatu aset tak akan mungkin secara terus menerus melemah maupun meningkat. 

Kemungkinan inflasi yang tinggi akibat kebijakan moneter ultra longgar dan kebijakan fiskal ekspansif pemerintah global terutama AS membuat investor memburu aset-aset bercuan tebal.

Emas yang dulunya dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi kini mendapat saingan. Pertama adalah saham. Di era kepemimpinan Joe Biden yang bakal sah menjadi Presiden AS ke-46 pada 20 Januari, kemungkinan tambahan stimulus fiskal membuat saham-saham AS terangkat.

Indeks S&P 500 berhasil menguat 1,83% di pekan pertama tahun 2021 di saat harga emas terkoreksi dalam. Selain saham investor juga mengalihkan sebagian asetnya ke cryptocurrency Bitcoin. Capital gain Bitcoin sepanjang pekan lalu bahkan lebih dari 25% mengalahkan saham.

Baca:

Lo Kheng Hong Koleksi GJTL, Apa Benar Masih Murah & Menarik?

Banyak pihak yang menilai pasar saham AS dan Bitcoin sedang berada di fase bubble. Namun bukan berarti bubble tersebut akan pecah dalam waktu yang singkat dan segera. 

Adanya inflow besar-besaran ke aset Bitcoin membuat harganya terbang dan menyentuh level tertingginya sepanjang masa. Sekarang tidak hanya investor ritel saja yang melirik Bitcoin. Para fund manager pun sudah memasukkan Bitcoin ke dalam aset yang harus dimiliki. 

Menurut Kepala Strategi Pasar The Money Stocks Gareth Soloway, sekarang investor lebih memilih membeli saham Tesla dan Bitcoin karena memberikan imbal hasil yang lebih menarik.

Meskipun fundamental emas memang kuat dengan berbagai kebijakan makroekonomi yang masih akan akomodatif di tahun ini, tetapi emas harus bersaing dengan aset-aset lainnya.

Ketika bubble aset lain mulai pecah, tak menutup kemungkinan investor bakal kembali memilih emas untuk hedging. Namun juga tak menutup kemungkinan para pemilik modal lebih tertarik untuk memegang uang tunai (cash). Hanya saja kapan periode crash akan terjadi belum bisa dipastikan.

TIM RISET  INDONESIA

Baca:

10 Saham Paling Ramai Trading Sepekan, Lah kok BUMN Semua?

[Gambas:Video ]

(twg/twg)