Sab. Jun 12th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Erdogan Kecam Biden: AS Tulis Sejarah di Tangan Penuh Darah

Jakarta, Indonesia – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mungkin adalah sosok yang pemimpin yang paling vokal menyuarakan penolakannya pada pendudukan Israel di Palestina. Bahkan ia keras menyuarakan sanksi tegas pada serangan yang terjadi di Jalur Gaza sepekan terakhir.

Bukan hanya mengutuk aksi tersebut, ia mengecam negara-negara Barat yang dianggapnya ‘diam’. Erdogan, yang rutin menghubungi para pemimpin dunia dalam sepekan terakhir, bahkan menyebut Amerika Serikat (AS) “menulis sejarah dengan tangan berdarah”.

Baca:

Ada Apa AS? Biden Blokir DK PBB soal Damai Israel-Palestina

Berbicara setelah rapat kabinet, Erdogan mengkritik persetujuan Presiden AS Joe Biden atas penjualan senjata ke Israel. Sumber kongres AS, ditulis International menyebut, administrasi Biden telah menyetujui penjualan senjata berpemandu presisi senilai US$ 735 juta atau sekitar Rp 10,5 trilun (asumsi Rp 14.300/US$) meskipun ada kekerasan di Palestina.

“Anda menulis sejarah dengan tangan berdarah dalam insiden yang merupakan serangan serius yang tidak proporsional di Gaza, yang menyebabkan ratusan ribu orang mati syahid,” katanya pada Senin (17/5/2021), dikutip dari Reuters.

Baca:

Ini Rentetan Kejadian Sebelum ‘Hujan’ Ribuan Roket di Gaza

Sementara itu serangan masih terjadi hingga Selasa (18/5/2021). Associated Press menyebut Israel menggelar serangan besar-besaran di sejumlah titik di Gaza.

Negeri itu beralasan ingin melumpuhkan lokasi yang diduga dijadikan markas Hamas dan sayap militernya, Brigade Izzudin Al-Qassam. Melalui serangan udara Israel masih meluncurkan rudal dan menghancurkan gedung di wilayah Palestina itu.

Terbaru Gedung Kementerian Agama Hamas juga diruntuhkan karena dituding markas Hamas. Israel juga mengklaim menghancurkan terowongan sepanjang 15 kilometer yang diduga dibangun Hamas untuk menyerang Israel.

Ini merupakan pekan kedua peperangan terjadi. Perang yang tidak seimbang itu telah menewaskan 212 warga Palestina.

Sebanyak 61 orang adalah anak-anak dan 36 orang merupakan perempuan. Jumlah korban luka-luka saat ini mencapai lebih dari 1.400 orang.

Sementara itu korban jiwa di pihak Israel mencapai sepuluh orang. Di antaranya adalah seorang perawat asal India, seorang anak berusia lima tahun dan seorang tentara.

Sebelumnya di PBB, AS dikabarkan memblokir pernyataan bersama Dewan Keamanan (DK) yang menyerukan penghentian kekerasan Israel-Palestina. Ini merupakan ketiga kalinya hal serupa dilakukan Negeri Presiden Joe Biden.

Hal tersebut, memicu pertemuan tertutup baru yang rencananya digelar kembali hari ini. Semenjak kekerasan meningkat rapat sudah terjadi tiga kali tanpa hasil sejak 10 Mei lalu.

Pernyataan bersama DK PBB tersebut dirancang China, Tunisia dan Norwegia. Naskah sudah diserahkan sejak Minggu malam untuk disetujui di rapat tertutup yang dilakukan 15 anggota DK, Senin.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)