Kam. Apr 15th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Gawat! Bursa Asia Berguguran Pagi Ini, IHSG Bakal Ikutan?

Pembukaan Bursa Efek Indonesia (CNBC indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, Indonesia – Bursa Asia mayoritas dibuka melemah pada perdagangan Rabu (24/3/2021), mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) yang juga ditutup melemah pada perdagangan Selasa (22/3/2021) waktu setempat seiring dari sikap investor yang masih berhati-hati terkait imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Tercatat indeks Nikkei Jepang dibuka merosot 0,76%, Hang Seng Hong Kong dibuka melemah 0,21%, Shanghai Composite China terkoreksi 0,51%, STI Singapura terdepresiasi 0,17% dan KOSPI Korea Selatan terpangkas 0,65%.

Pada hari ini, Jepang merilis data pembacaan awal indeks manager pembelian (Purchasing Manager’ Index/PMI) manufaktur periode Maret 2021. Berdasarkan data dari IHS Markit dan Trading Economics, PMI Negeri Sakura kembali berekspansi ke angka 52 dari sebelumnya pada Februari 2021 di angka 51,4.

PMI menggunakan angka 50 sebagai ambang batas. Di atasnya berarti ekspansi, sementara di bawahnya kontraksi.

Pergerakan bursa Asia cenderung mengikuti bursa saham AS, Wall Street yang ditutup di zona merah pada perdagangan kemarin. Selain itu, ketegangan antara China dengan negara-negara sekutu AS, yakni Uni Eropa (UE), Inggris, dan Kanada juga masih menjadi sentimen negatif bagi bursa saham Asia.

Beralih ke Negeri Paman Sam, bursa saham New York (Wall Street) kembali melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat, setelah sehari sebelumnya Wall Street ditutup di zona hijau seiring dari penurunan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (US Treasury).

Baca:

Tak Perlu Frustasi Saat IHSG Stagnan, Ini Saham Pilihan Cuan

Indek Dow Jones Industrial Average (DJIA) merosot 0,94% ke level 32.423,15, S&P 500 terdepresiasi 0,76% ke 3.910,52, dan Nasdaq Composite ambles 1,12% ke 13.227,7.

“Sepertinya pasar sedang agak bingung mencari petunjuk ke mana arah selanjutnya. Kira-kira sentimen apa yang bisa menggerakkan harga saham,” ujar Julian Emmanuel, Chief Equity and Derivatives Strategist di BTIG, seperti dikutip dari Reuters.

Malam tadi waktu Indonesia, Ketua Bank Sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) Jerome ‘Jay’ Powell dan Menteri Keuangan AS Janet Yellen melakukan Rapat Kerja dengan Komite Jasa Keuangan House of Representatives. Dalam forum itu, nyaris tidak ada hal baru yang bisa menggerakkan pasar.

Yellen, misalnya, kembali menegaskan bahwa stimulus fiskal senilai US$ 1,9 triliun yang akan segera digulirkan akan membuat AS mampu mewujudkan penciptaan lapangan kerja yang optimal (full employment) tahun depan. Sesuatu yang pernah disampaikannya bulan lalu.

“Saya yakin bahwa masyarakat akan sampai di sisi seberang dengan fondasi dalam kehidupan mereka. Masyarakat akan bersama-sama menikmati pertumbuhan ekonomi. Mungkin kita bisa mencapai full employment tahun depan,” kata Yellen, seperti dikutip dari Reuters.

Keyakinan serupa disampaikan oleh Powell, di mana ia memperkirakan lapangan kerja akan semakin terbuka dalam bulan-bulan ke depan seiring aktivitas masyarakat yang menuju normal karena vaksinasi anti-virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19). Ke depan, restoran, hotel, sampai taman hiburan akan semakin dibuka sehingga menciptakan lapangan kerja.

“Pemulihan ekonomi ternyata lebih cepat dari perkiraan sebelumnya dan semakin kuat. Kami memperkirakan inflasi akan naik tahun ini, tetapi tidak besar dan tidak persisten. Kami punya instrumen untuk mengatasi itu,” papar Powell, sebagaimana diwartakan Reuters.

Padahal pelaku pasar ingin mendapatkan petunjuk bagaimana otoritas moneter dan fiskal menyikapi kenaikan yield obligasi.

Bagi pemerintah selaku penerbit obligasi, kenaikan yield tentu tidak menguntungkan karena yield di pasar sekunder akan menjadi acuan dalam pembentukan kupon saat lelang pasar primer. Ketika yield tinggi, pemerintah akan ‘dipaksa’ untuk memberikan kupon tinggi, yang menjadi beban buat anggaran negara.

Bagi otoritas moneter, kenaikan yield menandakan tingginya ekspektasi inflasi. Ketika inflasi terlalu tinggi, bahkan kalau sampai melampaui target 2%, maka kebijakan moneter perlu diarahkan ke cenderung ketat, tidak lagi ultra-longgar seperti sekarang.

Yield obligasi pemerintah AS masih bisa naik lagi, dan pasar menanti sampai di batas mana toleransi pemerintah dan The Fed,” ujar Minori Uchida, Chief Currency Analyst di MUFG Bank, seperti dikutip dari Reuters.

“Pasar ingin tahu seberapa tinggi yield bisa naik. The Fed memang menegaskan bahwa suku bunga rendah akan bertahan setidaknya sampai 2023, tetapi tentu ke depan akan semakin banyak suara yang berbeda,” tambah Yukio Ishizuki, Senior Strategist di Daiwa Securities, juga diwartakan Reuters.

TIM RISET INDONESIA

[Gambas:Video ]

(chd/chd)