Kam. Apr 22nd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Geger Dunia! AS-Saudi ‘Pecah’, Raja Salman Ngamuk ke Biden

FILE PHOTO: Saudi Arabia's King Salman bin Abdulaziz Al Saud, attends a banquet hosted by Shinzo Abe, Japan's Prime Minister, at the prime minister's official residence in Tokyo, Japan, Monday, March 13, 2017.  To match Insight SAUDI-POLITICS/KING REUTERS/Tomohiro Ohsumi/Pool/File Photo

Jakarta, Indonesia – Hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) berada di ujung tanduk. Kedua sekutu itu bersitegang atas laporan terbaru AS dan sanksi yang diberikan.

Pemerintah Arab Saudi yang dipimpin Raja Salman ‘mengamuk’ lantaran laporan AS yang mendiskreditkan Putra Mahkota, Mohamed bin Salman (MBS). Pemerintahan Presiden Joe Biden secara resmi mengeluarkan laporan soal pembunuhan Jamal Khashoggi dan menyebut MBS ‘dalangnya’.

Baca:

Biden Telepon Pangeran Salman, Putra Mahkota Arab Masuk RS

Khashoggi adalah jurnalis Saudi yang menjadi koresponden di Washington Post dan kerap mengkritik kerajaan. Laporan intelijen AS menyebut MBS patut disalahkan atas kematian jurnalis tersebut pada 2018. MBS dilaporkan menyetujui pembunuhan tersebut.

“Pemerintah kerajaan Arab Saudi sepenuhnya menolak penilaian negatif, salah dan tidak dapat diterima dalam laporan yang berkaitan dengan kepemimpinan kerajaan,” tegas Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pernyataan dikutip dari AFP Jumat (27/2/2021).

“(Saudi) mencatat bahwa laporan tersebut berisi informasi dan kesimpulan yang tidak akurat.”

Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa pangeran menyetujui operasi Istanbul untuk menangkap atau membunuh Khashoggi. Sejak 2017, putra mahkota memiliki kendali mutlak atas operasi kerajaan sehingga sangat tak mungkin pejabat Saudi akan melakukan operasi tanpa seijin Putra Mahkota.

“Sangat disayangkan bahwa laporan ini, dengan kesimpulan yang tidak dapat dibenarkan dan tidak akurat, dikeluarkan sementara kerajaan dengan jelas mengecam kejahatan keji ini, dan kepemimpinan kerajaan mengambil langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa tragedi seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi,” kata kementerian.

“Kerajaan menolak tindakan apa pun yang melanggar kepemimpinan, kedaulatan, dan kemandirian sistem peradilannya.”

Laporan itu menyebut, satu regu beranggotakan 15 orang pergi ke Istanbul dari Saudi pada Oktober. Mereka semua diyakini berpartisipasi pada pembunuhan meski tak jelas apakah tim tahu target yang dituju.

“Putra mahkota memandang Khashoggi sebagai ancaman bagi kerajaan dan secara luas mendukung penggunaan tindakan kekerasan jika perlu untuk membungkamnya,” tulis laporan tersebut.

Khashoggi, yang menulis kritik tentang pangeran di The Washington Post, dibujuk ke konsulat Saudi di Istanbul untuk menyelesaikan dokumen pernikahan. Ia dilaporkan hilang oleh sang tunangan yang menunggunya di depan kantor diplomatik tersebut karena tak kunjung muncul berjam-jam.

Halaman 2>>