Ming. Apr 18th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Geger Nikel, Masih Layakkah Saham TINS Diborong Investor?

A truck passes through a tin mining area of Indonesia's PT Timah in Pemali, Bangka island, Indonesia, July 25, 2019. REUTERS/Fransiska Nangoy

Jakarta, Indonesia РSaham emiten nikel PT Timah Tbk (TINS) menguat 3,54% ke level Rp 2.340/saham pada perdagangan Jumat (15/1/21) akhir pekan lalu. Sepanjang pekan lalu, saham TINS sudah menguat 28,93% dan selama 3 bulan terakhir, saham TINS telah melesat hingga 231,91%.

Nilai transaksi saham TINS pada perdagangan akhir pekan lalu mencapai Rp 1 triliun dengan volume yang diperdagangkan sebanyak 439,7 miliar.

Penguatan saham TINS didorong oleh kenaikan harga nikel yang masih terjadi hingga akhir pekan lalu.

Nikel sendiri merupakan salah satu logam hasil tambang yang digunakan untuk berbagai keperluan. Di pasar dikenal ada dua jenis nikel yaitu nikel kelas I dan kelas II.

Baca:

Unstopable! TINS, ANTM Dkk Lari Kencang, Saat IHSG Labil

Nikel kelas II banyak digunakan untuk pembuatan stainless steel, sementara kelas I digunakan untuk produk lain seperti komponen baterai mobil listrik.

Sentimen makin maraknya penggunaan mobil listrik dan tren penjualan mobil listrik yang meningkat membuat harga nikel mengalami kenaikan yang pesat.

Selain itu, Permintaan yang tinggi dari produsen stainless steel yang menyumbang sekitar dua pertiga dari permintaan nikel global yang diperkirakan sekitar 23 juta ton tahun lalu. Permintaan yang kokoh membuat harga terdongkrak.

Namun kenaikan produksi NPI Indonesia diperkirakan bakal menurunkan harga nikel. Produksi NPI Indonesia diperkirakan naik antara 690.000 hingga 800.000 ton tahun ini.

Sebelumnya, kekurangan bijih nikel akan diperparah oleh musim hujan di Filipina, yang kemungkinan akan mengganggu pasokan hingga setidaknya Januari 2021.

Itulah mengapa harga nikel bisa reli tak terhenti. Di sisi lain outlook bullish adanya periode super-cycle commodity setelah pandemi Covid-19 dan diperkirakan bakal membuat harga komoditas tambang ini melesat dan tembus US$ 20.000/ton.

Baca:

Kuartet ANTM-TINS-PTBA-INCO Melesat Lagi, Kenapa Nih?