Sen. Mar 8th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Harga Batu Bara Ambles 4% Minggu ini, Hopeless…?

Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, Indonesia – Harga batu bara ambles pada pekan ini. Mulai berakhirnya musim dingin di bumi belahan utara (northern hemisphere) membuat permintaan si batu hitam berkurang drastis.

Pada minggu ini, harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) merosot 4,26% secara point-to-point. Harga batu bara menjauh dari level US$ 80/ton.

Baca:

Lagi dan Lagi, Harga Drop, Batu Bara Jadi Bulan-bulanan Pasar

Sejak akhir 2021 hingga akhir Januari, harga batu bara sejatinya dalam tren menguat. Namun memasuki bulan kedua 2021, harga mulai bergerak melemah.

Penyebabnya adalah puncak musim dingin yang sudah berlalu. Memasuki musim semi, kebutuhan penghangat ruangan tidak setinggi saat musim dingin. Ini membuat konsumsi listrik turun cukup tajam.

Mengutip catatan Our World in Data, sebagian besar pembangkit listrik dunia masih menggunakan batu bara sebagai sumber energi primer. Pada 2019, total produksi listrik dunia adalah 26.296,51 TWh. Dari jumlah tersebut, 35,95% bersumber dari batu bara.

bbSumber: Our World in Data

“Puncak permintaan musim dingin sudah berlalu. Sekarang permintaan batu bara mulai melandai,” sebut Toby Hassall, Analis Refinitiv.

Halaman Selanjutnya –> Masih Ada Harapan Buat Batu Bara