Sen. Mei 17th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Investor Saham Pindah ke Kripto? Ini Buka-bukaan Bos Bappepti

Ilustrasi Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (BAPPEBTI). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, Indonesia – Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Kementerian Perdagangan angkat bicara mengenai maraknya investor di pasar modal yang kini lebih condong terhadap sejumlah aset kripto (cryptocurrency) mulai dari bitcoin, ripple, ethereum dan lainnya.

Lantas, apakah benar demikian?

“Berdasarkan data transaksinya, sebenarnya kurang tepat,” kata Kepala Bappebti Sidharta Utama dalam program Investime Indonesia, dikutip Selasa (20/4/2021).

Sidharta mengemukakan nilai transaksi harian aset kripto lebih kecil dibandingkan pasar saham. Per Februari, nilai transaksi harian kripto hanya Rp 1,5 triliun, sementara di pasar saham rata-rata hariannya bisa mencapai Rp 15 triliun.

Kepala Bappebti, Sidharta UtamaFoto: Kepala Bappebti, Sidharta Utama
Kepala Bappebti, Sidharta Utama

Pun demikian jumlah investor di aset kripto. Data Bappebti mencatat, total investor aset kripto per Februari mencapai 4,2 juta, sementara investor khusus di pasar saham mencapai 4,5 juta pada periode yang sama.

Baca:

Meledak! Investor Kripto RI Capai 4,2 Juta, Kalahkan Saham

“Karena kripto ini produk dari luar negeri. Dengan demikian, pembentukan harganya dibentuk secara global,” katanya.

Sidharta menegaskan aset kripto dan saham merupakan produk investasi yang berbeda. Menurutnya, aset kripto sejatinya bisa menjadi sarana diversifikasi produk investasi.

“Jadi selain melakukan investasi di deposito, atau surat berharga pemerintah, atau obligasi, ini ada investasi lainnya yaitu aset kripto,” tegasnya.

Dia mengatakan bahwa aset kripto merupakan alat investasi yang relatif baru, sehingga baru dimulai perdagangannya dalam beberapa tahun terakhir dan diprediksi akan terus meningkat ke depan.

“Aset kripto sendiri itu merupakan produk investasi yang berbeda dari produk investasi pasar modal. Dengan demikian, kedua alternatif investasi ini saling melengkapi bukan substitusi [bukan saling menggantikan]. Kekhawatiran itu saya kira tidak terlalu benar-benar terjadi,” kata pengajar di FEB Universitas Indonesia (UI), Full Professor FEB UI, dan Sekretaris Majelis Wali Amanat UI ini.

Baca:

Waspada! Bitcoin Bakal ‘Dikeroyok’ Bank Sentral Dunia

[Gambas:Video ]

(tas/tas)