Sab. Jun 12th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Isu Tapering Menguat, IHSG ‘Sakti’ Kalo Bisa Menguat Lagi!

Ilustrasi Bursa Efek Indonesia (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta,  Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membukukan penguatan nyaris 1% ke 6.091,513 pada perdagangan Kamis kemarin. Sementara pada perdagangan hari ini, Jumat (4/6/2021) isu tapering atau pengurangan nilai program pembelian aset (quantitative easing/QE) bank sentral Amerika Serikat (The Fed) semakin menguat yang bisa memberikan negatif bagi pasar finansial Indonesia

Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih (net buy) Rp 888 miliar di pasar reguler kemarin, jika ditambah dengan pasar nego dan tunai total net buy menjadi Rp 1,15 triliun.

Hingga perdagangan kemarin, IHSG sudah membukukan penguatan 6 hari beruntun dengan total 5,7%. Sementara itu sepekan terakhir, investor asing net buy Rp 2,3 triliun di pasar reguler, dan Rp 3,62 triliun termasuk pasar nego dan tunai.

Sementara itu setelah rilis data tenaga kerja Amerika Serikat versi ADP kemarin, pasar kini kembali melihat potensi pengetatan moneter di Negeri Paman Sam dalam waktu dekat setelah rilis data tenaga kerja AS kemarin.

Baca:

10 Informasi Patut Anda Baca Buat Serok Cuan Hari Ini

“Data tenaga kerja yang lebih baik dari prediksi membuat para trader berhati-hati. Mereka mempersiapkan kemungkinan pernyataan tapering atau kenaikan suku bunga dari The Fed, meski tidak dalam waktu dekat” kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, sebagaimana dilansir International, Kamis (4/6/2021),

Isu tapering kembali muncul setelah Presiden The Fed wilayah Philadelphia, Patrick Harker mengatakan saat ini waktu yang tepat untuk memikirkan mengenai pengurangan QE.

“Kami berencana mempertahankan suku bunga acuan di level rendah dalam waktu yang lama. Tetapi ini mungkin saatnya untuk mulai memikirkan pengurangan program pembelian aset yang saat ini senilai US$ 120 miliar,” kata Harker sebagaimana dilansir Reuters, Kamis kemarin.

Kebijakan moneter ultra-longgar yang diterapkan The Fed sejak Maret tahun lalu menjadi salah satu faktor yang membuat bursa saham global bangkit, termasuk IHSG. Sehingga ketika muncul isu tapering yang artinya pengetatan kebijakan moneter, membuat IHSG berisiko tertekan. Apalagi IHSG sudah menguat 6 hari beruntun dengan total persentase 5,7%, sehingga berisiko memicu aksi profit taking.

Secara teknikal, laju penguatan tajam IHSG kini menghadapi resisten kuat yakni rerata pergerakan 100 hari (Moving Average 100/MA 100) di kisaran 6.125. Jika mampu melewati level tersebut, maka IHSG ke depannya bisa melaju lebih kencang.

jkseGrafik: IHSG Harian
Foto: Refinitiv

Namun sebelum mencapai resisten tersebut, IHSG harus melewati level psikologis 6.100 terlebih dahulu.

Sementara itu indikator stochastic pada grafik harian mulai bergerak naik setelah memasuki wilayah jenuh jual (oversold).

jkseGrafik: IHSG 1 Jam
Foto: Refinitiv

Stochastic merupakan leading indicator, atau indikator yang mengawali pergerakan harga. Ketika Stochastic mencapai wilayah overbought (di atas 80) atau oversold (di bawah 20), maka harga suatu instrumen berpeluang berbalik arah.

Pada grafik 1 jam, stochastic bergerak dan sudah mencapai wilayah overbought. Sehingga ada risiko koreksi IHSG. Apalagi, IHSG sudah membukukan penguatan 6 hari beruntun.
Selama tertahan di bawah level psikologis 6.100, IHSG berisiko turun ke 6.030.

TIM RISET  INDONESIA 

Baca:

Meroket 3 Hari Dibeli Anthoni Salim, Awas DCII Profit Taking!

[Gambas:Video ]

(pap/pap)