Sab. Jun 12th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Jokowi, Sri Mulyani, Hingga Bos BI Khawatirkan Ancaman Ini

Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi) di Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2021, Istana Kepresidenan Bogor, (BPMI Setpres 2021) 1 Juni 2021. (BPMI)

Jakarta, Indonesia – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menekankan bahwa kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun ini akan bergantung pada data-data perekonomian pada kuartal kedua.

Hal tersebut dikemukakan Jokowi saat membuka peresmian rapat koordinasi pengawasan intern pemerintah tahun 2021 di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, seperti dikutip Senin (2/6/2021).

“Target kita di kuartal kedua melompat kurang lebih mencapai 7%. Bukan sesuatu yang mudah, bukan sesuatu yang gampang,” kata Jokowi.

Jokowi menegaskan pada tahun ini pemerintah mematok angka pertumbuhan ekonomi di rentang 4,5% – 5,5%. Jika tidak mencapai angka pertumbuhan 7%, bukan tidak mungkin target pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun tidak tercapai.

“Jadi kalau enggak ketemu angka 7%, untuk mengejar ke pertumbuhan ekonomi tahun 2021 juga bisa menjadi tidak tercapai meskipun kita ada ketidakpastian ekonomi global, ada ketidakpastian pandemi,” katanya.

Indonesia sendiri memang dituntut untuk pulih lebih cepat agar terhindar dari risiko taper tantrum yang pernah terjadi kala 2013 lalu. Apalagi, kemungkinan besar bank sentral AS (The Federal Reserve) akan meninggalkan kebijakan ultra longgar untuk menuju pengetatan atau yang dikenal dengan istilah tapering off.

Saat itu terjadi, maka perekonomian domestik pun akan semakin kesulitan untuk pulih. Pasalnya, periode taper tantrum hanya akan membuat ketidakpastian semakin menjadi. Aliran dana asing pun akan pergi dari sejumlah negara berkembang menuju ke tempat yang lebih aman.

Namun, eks Gubernur DKI Jakarta itu juga mengakui bahwa bukan perkara mudah untuk mencapai angka tersebut. Apalagi, Jokowi menemukan fakta realisasi anggaran pemerintah pusat maupun daerah masih relatif rendah.

“Supaya kita tau semua, realisasi belanja pemerintah masih rendah sekitar 15% untuk APBN dan 7% untuk APBD. Masih rendah,” katanya.

Selain itu, Jokowi juga membeberkan realisasi dana program pemulihan ekonomi (PEN) yang telah dialokasikan hingga nyaris Rp 700 triliun. Hingga saat ini, realisasinya pun masih rendah.

“Serapan belanja pemulihan ekonomi nasional juga masih rendah baru 24,6% Sekali lagi kecepatan, ketepatan sasaran,” jelasnya.

Rendahnya akselerasi belanja, sambung dia, juga tercermin dari pos belanja pengadaan barang dan jasa baik di kementerian lembaga maupun pemerintah daerah.

“Kuartal pertama realisasi pengadaan barang dan jasa dari kementerian lembaga baru sekitar 10,98%. Kemudian pengadaan barang dan jasa untuk pemerintah daerah masih kurang dari 5%,” jelasnya.

Halaman Selanjutnya >> Bukan Cuma Jokowi yang Khawatir Taper Tantrum

Baca:

Rencana Tax Amnesty Jilid II Terbongkar, Ini Skenarionya