Sel. Mei 18th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Kabar Baik buat IHSG nih, Bursa Asia Dibuka Menguat!

Jakarta, Indonesia – Pasar saham Asia mayoritas dibuka menguat pada perdagangan Selasa (4/5/2021), cenderung mengikuti bursa saham Amerika Serikat (AS) yang ditutup menguat pada perdagangan Senin (3/5/2021) waktu setempat.

Tercatat indeks Hang Seng Hong Kong dibuka menguat 0,28% dan KOSPI Korea Selatan tumbuh 0,13%. Sementara indeks Straits Times Singapura dibuka melemah tipis 0,03%.

Sedangkan untuk indeks Nikkei Jepang hari ini masih ditutup karena sedang libur nasional memperingati Hari Hijau (Greenery Day) dan masih dalam libur Pekan Emas (Golden Week). Sementara di China, perdagangan pasar keuangan juga masih ditutup karena libur panjang terkait Hari Buruh.

Saat bursa utama Asia (Jepang dan China) masih libur, investor di Asia kembali memantau perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) di India, di mana kasus aktif Covid-19 di India menunjukkan sedikit tanda-tanda perlambatan.

Baca:

Disebut-sebut Erick Jadi Contoh BUMN, Segede Apa Ping An?

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mengatakan pada pekan lalu bahwa satu dari setiap tiga kasus virus corona strain baru secara global dilaporkan di India.

Beralih ke AS, tiga indeks utama berakhir variatif cenderung menguat hijau. Dow Jones Industrial Average (DJIA) naik 0,7% ke level 34.113,23, S&P 500 menguat 0,27% ke 4.192,66, namun Nasdaq Composite melemah 0,48% ke posisi 13.895,12.

Investor di Wall Street bergairah karena kinerja keuangan emiten yang ciamik. Berdasarkan kompilasi Refinitiv, lebih dari separuh emiten di indeks S&P 500 yang sudah menyetor laporan keuangan dan diperkirakan laba naik sampai 46% pada kuartal I-2021. Jauh lebih baik ketimbang proyeksi sebelumnya yaitu naik 24%.

Sekitar 87% laporan keuangan yang sudah diumumkan sejalan atau bahkan lebih baik dari konsensus pasar. Ini adalah rasio tertinggi sejak Refinitiv mulai melakukan pencatatan pada 1994.

“Musim laporan keuangan belum selesai. Kinerja keuangan emiten akan semakin membaik karena situasi memang sudah jauh lebih baiik. Jadi masih ada ruang untuk kenaikan,” tegas Eric Freedman, Chief Investment Officer di US Bank Wealth Management, seperti dikutip dari Reuters.

Baca:

Ternyata Warren Buffett Nyesel Juga Jualan Saham, Kok Bisa?

“Sejauh ini realisasi laporan keuangan jauh lebih baik dari perkiraan. Investor ritel dan institusi merasa positif dengan kondisi pasar, meski indeks sudah berkali-kali menyentuh rekor tertinggi,” tambah Mrak Grant, Chief Global Market Strategist di B. Riley FBR, juga dikutip dari Reuters.

Rilis data ekonomi terbaru juga berpihak kepada aset berisiko seperti saham. Institute of Supply Management (ISM) melaporkan PMI manufaktur AS pada April 2021 adalah 60,7. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 64,7 meski masih di zona ekspansi.

Penurunan aktivitas manufaktur disebabkan oleh dunia usaha yang kewalahan dalam memenuhi permintaan yang meningkat pesat. Dunia usaha kehabisan bahan baku (input) karena permintaan melonjak akibat vaksinasi anti-virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) yang masif plus kehadiran stimulus fiskal dari pemerintahan Presiden Joseph ‘Joe’ Biden.

Di sektor otomotif, kekurangan pasokan semikonduktor membuat produksi terpaksa dikurangi. Ford, misalnya, memangkas produksi lebih dari 50% untuk kuartal II-2021.

Di bidang teknologi informasi, pasokan chip juga langka. Akibatnya, produksi perangkat seperti iPad dan komputer Mac terpaksa dikurangi sehingga penjualan menyusut dalam hitungan miliar dolar AS.

Data ini menggambarkan bahwa pemulihan ekonomi, bahkan di AS sekalipun, tidak berjalan seragam. Di satu sisi permintaan meningkat tajam tetapi belum bisa diimbangi oleh pasokan yang memadai.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa ekonom AS belum sehat betul. Berbagai dukungan masih diperlukan. Pemerintah memberikan stimulus hingga triliunan dolar AS dan bank sentral (The Federal Reserve/The Fed) masih perlu menjaga kebijakan moneter tetap ultra-longgar agar dunia usaha bisa terus berekspansi untuk dapat memenuhi permintaan.

Suku bunga yang kemungkinan besar tetap rendah akan menguntungkan bagi emiten di pasar saham. Biaya ekspansi akan murah sehingga prospek kenaikan laba terbuka lebar.

TIM RISET INDONESIA

Baca:

Ada Sinyal IHSG Menguat, Cek Saham Pilihan Cuan Ini

[Gambas:Video ]

(chd/chd)