Jum. Agu 6th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Maaf Hasil ASEAN Kayanya Mental, Pertempuran Pecah di Myanmar

Ilustrasi militer Myanmar. AP/

Jakarta, Indonesia – Meskipun KTT ASEAN mengenai Myanmar telah membuahkan beberapa hasil mengenai perdamaian dan menahan diri, kondisi di negara itu masih belum kondusif. Bahkan pertempuran pecah di negara itu.

Dikutip media Irrawaddy, saling serang antara milisi etnis dan junta militer terjadi di Mindat di Negara Bagian Chin pada Selasa (27/4/2021) pukul 6 sore. Sebelumnya dalam laporan Reuters, pertempuran telah terjadi sejak Selasa dini hari di sejumlah wilayah timur negeri itu, berbatasan dengan Thailand.

Baca:

Pertempuran Pecah di Myanmar, Junta Militer Diserang

Media lokal itu mengungkap, sebenarnya situasi tenang beberapa beberapa jam menyusul upaya junta untuk mengadakan negosiasi dengan pasukan pertahanan sipil. Namun penembakan terjadi lagi di sore hari.

“Penembakan telah dilanjutkan di kota itu,” kata seorang warga Mandat pada Selasa malam.

“Saya baru pulang dari pusat kota. Artinya negosiasi telah gagal. Saya pikir pertempuran akan meningkat malam ini, “katanya.

Kekerasan telah terjadi di Mindat sejak 24 April setelah polisi menolak melepaskan enam pengunjuk rasa anti-rezim. Penduduk mengatakan mereka menggunakan senjata api tradisional untuk membela diri setelah militer menembak terlebih dahulu.

Pasukan junta memberi tahu para pemimpin masyarakat bahwa pasukan mereka harus diizinkan memasuki kota. Sementara penduduk mendesak pembebasan tahanan.

Baca:

Rakyat Myanmar Kecam Konsensus ASEAN-Junta Militer, Kok Bisa?

Melansir laporan sedikitnya 16 tentara junta tewas Selasa pagi setelah pejuang perlawanan menyerang bala bantuan dalam perjalanan mereka ke kota pegunungan itu.

Dalam KTT ASEAN akhir pekan lalu di Jakarta, pemimpin ASEAN dan Jenderal Senior junta militer Min Aung Hlaing menyepakati lima poin penting. Salah satunya berisi tuntutan agar militer mengurangi kekerasannya terhadap pendemo.

Namun dalam tuntutan itu tidak dituliskan mengenai pembebasan Aung San Suu Kyi dan tahanan politik lainnya. Selain itu kubu oposisi menilai hasil ASEAN cacat lantaran tidak memiliki tenggat waktu yang jelas dan tidak melibatkan kubu yang dikudeta.

Di sisi lain, protes massa yang melibatkan ratusan orang kembali terjadi kota-kota besar Myanmar Minggu (25/4/2021). Aktivis bahkan mengajak warga untuk tidak membayar listrik dan tak hadir ke sekolah.

Sementara itu Kelompok advokasi Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik (AAPP) mengatakan 3.431 orang ditahan karena menentang kudeta. Selain itu, dikabarkan juga hingga saat ini sudah751 orang tewas dalam kekerasan junta terhadap para demonstrananti-kudeta sejak penggulingan 1 Februari lalu.

Kondisi di Myanmar semakin hari semakin memprihatinkan dengan adanya ancaman perang saudara setelah 10 milisi etnis bersenjata memberikan dukungan penuh kepada “pemerintahan tandingan” NUG. Pewmerintah bayangan itu terdiri politisi pro demokrasi Suu Kyi.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)