Myanmar Ogah Jadi ‘Boneka’ China, Junta Sewa Pelobi Israel

Anti-coup protesters gather outside the Hledan Centre while the flag of the National League for Democracy party is waved from an overhead roadway in Yangon, Myanmar Monday, Feb. 22, 2021. Protesters gathered in Myanmar's biggest city Monday despite the ruling junta's thinly veiled threat to use lethal force if people answered a call for a general strike opposing the military takeover three weeks ago.(AP Photo)

Jakarta, Indonesia – Junta militer Myanmar menyewa seorang pelobi berdarah Israel-Kanada untuk membantu menjelaskan ke barat soal situasi yang tengah dihadapi negeri itu. Ari Ben-Menashe (69) telah direkrut Tatmadaw, sebutan untuk junta, pekan ini, sebagai mana dilaporkan The Guardian.

Ben-Menashe bukan orang sembarangan. Ia adalah mantan pedagang senjata yang telah bekerja untuk penguasa lama negara Afrika itu, Robert Mugabe. Ia juga pernah bekerja untuk junta militer Sudan termasuk calon presiden di sejumlah negara seperti Venezuela, Tunisia dan Kirgistan.

Pilihan Redaksi
  • Ramai-ramai ‘Hukum’ Junta Myanmar, Kali Ini Australia!
  • Myanmar ‘Shut Down’, Ekonomi Negeri Burma Terancam Mati Total
  • Ditembak Lagi di Kepala, 2 Pendemo Myanmar Tewas di Tempat

Dalam sebuah wawancara, pria kelahiran Teheran, Iran, itu membenarkan hal ini. Ia dibayar sejumlah besar oleh junta dan akan menerima bonus, jika sanksi ke pemimpin militer Myanmar dicabut.

Ben-Menashe mengatakan perusahaan konsultan politiknya, Dickens & Madson Canada, telah disewa oleh para jenderal Myanmar untuk membantunya berkomunikasi dengan AS dan negara lain. “Untuk menyelesaikan salah paham terhadap mereka,” kutip Guardian.

Pesannya ke barat adalah pemimpin de facto Myanmar yang digulingkan 1 Februari lalu, Aung San Suu Kyi punya peran lebih dibanding apa yang AS dan negara lain ketahui. Termasuk dalam penindasan etnis minoritas Rohingnya dan mengizinkan semakin besarnya pengaruh China.

“Ada dorongan nyata untuk (junta Myanmar) bergerak ke arah barat dan AS daripada mencoba mendekati China,” kata Ben-Menashe kepada Reuters dikutip Selasa (9/3/2021).

“Mereka tidak ingin menjadi boneka China.”Meski begitu, klaim itu tak bisa diverivikasi. Pasalnya Suu Kyii saat ini menjalani tahanan khusus dan menghadapi sejumlah dakwaan dari junta.”

Aung San Suu Kyi sebagai pemimpin adalah yang melakukan (kekerasan) di Rohingya, bukan tentara,” katanya lagi.

Suu Kyi berulang kali membela kekerasan militer Myanmar ke Rohingya termasuk di Den Haag pada tahun 2019. Ini sempat menyebabkan seruan agar dia dicabut dari sejumlah penghargaan termasuk hadiah Nobel perdamaian.

Sementara itu di AS, Ben-Menashe sendiri terkenal karena ia menuduh presiden AS Ronald Reagen bersekongkol dengan kelompok revolusioner Iran untuk membebaskan sandera Amerika selama kampanye 1980, melawan Jimmy Carter. Ia juga membuat laporan soal hubungan dekat AS dan Iran soal penjualan senjaya ke kelompok sayap kiri di Amerika Latin.

Di Inggris, ia pernah membuat heboh saat menerbitkan laporan tentang Robert Maxwell, seorang anggota parlemen Inggris. Ia menyebut Maxwell adalah agen Mossad, intelijen Israel, meski hal tersebut dibantah.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)