Ming. Apr 18th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Persaingan Bank Digital di RI Makin Seru, Siapa Jadi Jawara?

[DALAM] Nasib Digital Banking di Masa Depan

Jakarta,  Indonesia – Konsep bank digital di Indonesia sudah ada sejak 5 tahun silam. Salah satu pencetusnya adalah PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN). Pada 11 Agustus 2016, BTPN meluncurkan aplikasi inovasi perbankan digital yang diberi nama Jenius.

Aplikasi Jenius lahir setelah 18 bulan masa pengembangan yang menelan biaya investasi mencapai kurang lebih Rp 500 miliar. BTPN mengusung tema Banking Reinvented dalam mengembangkan Jenius.

Melalui platform tersebut, BTPN menawarkan kemudahan bagi nasabah untuk bertransaksi melalui berbagai fitur yang tersedia seperti $Cashtag, Save It, Send It, Pay Me, Split Bill, eCard, dan lain-lain.

Menariknya, untuk membuka akun Jenius seorang calon nasabah tidak perlu repot-repot pergi ke kantor cabang hanya untuk mengurus administrasi. Nasabah hanya perlu membuka gadget-nya dan mengunduh aplikasi Jenius di Play Store maupun App Store.

Pendaftaran calon nasabah dilakukan secara online tanpa harus mengantre hanya untuk membuka rekening lewat customer service. Inovasi ini langsung direspons positif oleh masyarakat terutama kaum urban di kalangan generasi muda millennial yang terkenal dengan mobilitas tinggi.

Kebutuhan transaksi yang menjadi lebih praktis dan strategi promosi yang gencar membuat pertumbuhan nasabah Jenius meningkat pesat dalam waktu singkat.

Pada Juni 2018 jumlah pengguna Jenius tercatat mencapai 700 ribu. Hanya dalam waktu lima bulan setelahnya jumlah pengguna bertambah menjadi 900 ribu. 

Saat pandemi Covid-19 merebak di Indonesia pada 2020, jumlah pengguna Jenius disebut sudah mencapai 2,7 juta. Di tahun 2019 platform Jenius menyumbang 5% dari total DPK BTPN.

Tahun lalu DPK dari layanan Jenius disebut mencapai Rp 10 triliun atau hampir setara dengan 10% DPK bank yang sekarang dikuasai oleh Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) tersebut.

Melihat pertumbuhan yang pesat, para pesaing pun bermunculan. Tak mau kalah, setahun setelah peluncuran Jenius, DBS Indonesia meluncurkan Digibank yang mengusung tema Bank Less Live More. 

Bank asal Australia yaitu Commonwealth Bank juga ikut berpartisipasi dalam persaingan bank digital melalui kendaraan yang diberi nama TymeDigital pada Agustus tiga tahun silam. 

Layanan perbankan digital pun terus bermunculan setelahnya. PT Bank Bukopin Tbk (BBKP), PT Bank Permata Tbk (BNLI) dan PT Bank Danamon Tbk (BDMN) juga ikut berpartisipasi dalam kompetisi tersebut. 

Baca:

Ada Kabar Oke dari Wamen BUMN, Saham ANTM-TINS-INCO kok Drop?

Perkembangan bank digital di Tanah Air semakin pesat dalam dua tahun terakhir. Untuk menjadi bank digital, lembaga perbankan konvensional dapat menempuh jalur transformasi model bisnis maupun lewat cara lain seperti melakukan aksi korporasi lewat akuisisi.

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan salah satu yang menempuh jalan kedua. Rencananya tahun ini Bank Digital BCA akan mulai beroperasi. Layanan ini terbentuk setelah BBCA mengakuisisi Bank Royal senilai Rp 988 miliar pada akhir 2019.

Langkah serupa juga dilakukan oleh pebankir senior sekaligus mantan bos BTPN Jerry Ng yang mengakuisisi PT Bank Artos Indonesia Tbk (ARTO) lewat kendaraan yang bernama PT Metamorfosis dengan menguasai 37,65% saham ARTO. 

Jerry Ng tidak sendirian, akuisisi 51% kepemilikan ARTO juga dilakukan bersama investor strategis lain. Adalah Patrick Sugito Waluyo, pendiri firma investasi NorthStar yang juga sekaligus investor perusahaan rintisan Gojek.

ARTO yang tadinya bernama Bank Artos berganti nama menjadi Bank Jago di bawah kepemilikan Jerry Ng dan Patrick Walujo. Lewat skema right issue, ARTO berhasil meraup suntikan dana sebesar 1,34 triliun dan membuatnya naik kelas menjadi Bank BUKU II.

Suntikan modal tersebut digunakan oleh perusahaan untuk pengembangan infrastruktur, teknologi informasi, sumber daya manusia dan memperkuat permodalan perbankan.

Aksi akuisisi selanjutnya dilakukan oleh pengusaha kondang Chairul Tanjung. Lewat PT Mega Corpora yang menaungi lini bisnis keuangan CT Corp, pria yang dikenal dengan sebutan ‘Anak Singkong’ tersebut mencaplok bank BUKU I yaitu PT Bank Harda Internasional Tbk (BBHI).

Aksi korporasi yang dilakukan oleh PT Mega Corpora tersebut telah direstui oleh para pemegang saham BBHI dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang diselenggarakan akhir Januari lalu. 

Para pemegang saham menyetujui pengambilalihan 73,71% dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor dalam Perseroan dari PT Hakimputra Perkasa oleh PT Mega Corpora.

Selain itu pemegang saham juga merestui perubahan anggaran dasar perseroan dan penunjukan jajaran direksi baru. Di bawah naungan PT Mega Corpora, BBHI akan bertransformasi menjadi bank digital. 

Baca:

10 Saham Tercuan Kemarin: IRRA-KAEF dkk Bangkit dari ‘Kubur’