Ming. Mei 16th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Ramai-ramai Bank Digital Rights Issue! Ada yang Cuan 3.000%

Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, Indonesia – Seiring dengan tuntutan pemenuhan modal inti dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejumlah bank digital berbondong-bondong akan melakukan penambahan modal dengan cara menerbitkan saham baru dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue.

Selain bank yang sudah menjadi bank digital, sejumlah bank mini (bank dengan modal inti RP 1-5 triliun) yang ingin memasuki ekosistem bank digital juga hendak melakukan rights issue dalam waktu dekat.

Lantas, seiring rencana rights issue tersebut, bagaimana kinerja saham-saham bank yang dimaksud?

Di dalam tulisan ini Tim Riset Indonesia akan membahas secara singkat kinerja saham-saham bank digital yang akan rights issue.

Dalam penelisikan cepat, setidaknya ada lima bank yang akan menambah saham baru lewat rights issue, yakni PT Bank Net Indonesia Syariah Tbk (BANK) yang baru saja mengganti namanya menjadi Bank Aladin Syariah, PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB).

Baca:

Tunggu OJK, KVision Siap Serap Rights Issue Maspion Rp 3,7 T

Kemudian, PT Bank MNC Internasional Tbk (BABP), PT Bank Maspion Indonesia Tbk (BMAS) dan PT Bank Harda Internasional TBk (BBHI).

Adapun bank digital PT Bank Jago Tbk (ARTO) sudah lebih dahulu melakukan rights issue pada Februari lalu.

Berikut kinerja saham kelima bank tersebut secara year to date (ytd).

Berdasarkan tabel di atas, kelima saham bank yang ingin rights issue mencatatkan kinerja yang ciamik sejak awal tahun. Kenaikan saham-saham ini sejak awal didorong oleh sentimen narasi bank digital dan pemenuhan modal inti bank mini setidaknya dalam beberapa bulan belakangan.

Meski dalam sebulan terakhir saham-saham bank mini cenderung ditinggalkan investor, mayoritas saham bank di atas terus dikoleksi.

Baca:

Jangan Kelewat! Pagi Ini Saham Emiten Wulan Guritno Listing

Bahkan, kendati kinerja Ytd saham BANK dihitung sejak bank tersebut melakukan initial public offering (IPO) pada 1 Februari 2021, saham ini tetap memuncaki ‘klasemen’ dengan ‘meroket to the moon‘ 3.1433% ke harga Rp 3.330/saham, dari harga IPO Rp 103/saham.

Saham BANK memang terus ‘menggila’ sejak awal IPO. Walaupun sempat disuspensi hampir sebulan, sejak 16 Maret hingga 6 April, saham BANK masih beberapa kali menunjukkan kenaikan harga yang signifikan.

Memang, apabila dibandingkan dengan kinerja sebelum suspensi terakhir, sejak 6 April saham BANK sudah 9 kali masuk zona merah.

Tak bisa dimungkiri, selain isu bank digital, kenaikan harga saham Bank Aladin juga didorong oleh rumor ‘pencaplokan’ oleh induk e-commerce Shopee, Sea Ltd yang berbasis di Singapura.

Di posisi kedua, ada saham BMAS milik pengusaha nasional Alim Markus. BMAS terus merangsek ke atas dengan kenaikan 329,07% secara ytd.

Selain narasi bank mini, sentimen pendorong untuk saham BMAS saat ini terkait soal proses akuisisi oleh Bank Thailand Kasikorn Vision Company Limited yang dimulai sejak April tahun lalu.

Saham ketiga, BBHI, yang baru saja dicaplok PT Mega Corpora besutan taipan Chairul Tanjung, juga terus melaju kencang sebesar 207,78% sejak awal tahun ini.

Saham BBHI merupakan satu dari sedikit saham bank mini yang terus diborong oleh investor akhir-akhirnya setelah ‘demam bank mini’ mulai surut.

NEXT: Bank-bank yang Mau Rights Issue

Baca:

Jelang Pengumunan PDB RI, Duh…IHSG Bakal Anjlok Lagi?