Sel. Jul 27th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Satu Demi Satu Gerai Ritel Berguguran, Fenomena Apa Ini?

Pengunjung memlih produk yang dijual di supermarket Giant, Pondok Cabe, Tangerang Selata, Rabu (4/3/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, Indonesia – Satu per satu gerai ritel di Indonesia menutup operasionalnya. Tidak sedikit kebijakan itu diambil oleh perusahaan ritel raksasa, tujuannya demi menjawab tantangan pandemi akibat kondisi yang kian tidak menentu.

Selama 15 bulan ini, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) sudah menyatakan bahwa ada ratusan ritel tutup. Setiap hari ada saja gerai yang berhenti beroperasi di Indonesia, termasuk ritel fashion, makanan, dan gerai ritel non-makanan lainnya.

Pilihan Redaksi
  • HERO Sudah Pangkas 6.667 Pekerja, Ini Nasib Karyawan Giant
  • Fakta-Fakta Tumbangnya ‘Raksasa’ Gerai Giant di Indonesia

“Kenyataannya kita lihat, Aprindo menghitung tahun 2020 setiap hari bahwa tutup hampir 5-6 toko, di 2021 tutup 1-2 toko,” jelas Ketua Umum Aprindo Roy Mandey dalam program Closing Bell Indonesia, Selasa (25/5/21).

Ia menyebut bahwa pandemi membuat peritel modern mengalami kondisi fluktuatif, bahkan under perform. Salah satu penyebabnya karena perubahan cara konsumsi dari konsumen.

Kini, banyak ritel yang menjalankan usahanya dengan dana cadangan, setidaknya untuk bisa bertahan enam bulan. Ketika dalam rentang waktu tersebut belum ada tanda pulih secara signifikan, maka pelaku usaha bakal memilih untuk menutup operasionalsecara keseluruhan.

Teranyar, pada Selasa (25/5/2021) manajemen PT Hero Supermarket Tbk (HERO) mengungkapkan semua gerai Giant akan ditutup pada Juli 2021. Gerai Giant akan dialihkan menjadi IKEAsebanyak 5 gerai dan sisanya menjadi gerai Hero.

Direktur HERO Hadrianus Wahyu Trikusumo saat itu menyebut, perusahaan sedang melakukan transformasi besar-besaran agar ke depan bisnis HERO bisa tetap bersaing dengan bisnis ritel makanan lainnya di Indonesia. Pasca penutupan itu, HERO sempat hanya mengelola 119 gerai Giant saja.

Langkah strategis ini bukan kali pertama. Sebelumnya Hero juga menutup Giant Margo, City Depok, Jawa Barat serta Giant Kalibata, Jakarta Selatan.

Hingga Maret 2021, gerai Giant hanya tersisa 75 gerai, untuk Giant Ekstra maupun Giant Ekspres. Sepanjang 2019 hingga Maret 2021 ada 25 gerai Giant yang ditutup.

Pada awal 2021 setidaknya ada tiga gerai Giant yang terkonfirmasiyang tutupyakni Giant Ekstra di Margo City Depok, Giant Mayasari Plaza Tasikmalaya dan Giant Kalibata.

Selain Giant, emiten ritel milik Grup Lippo, PT Matahari Departement Store Tbk (LPPF) juga berencana menutup 13 gerainya pada tahun ini. Sekretaris Perusahaan Matahari Department Store, Miranti Hadisusilo, menjelaskan bahwa 13 gerai yang dimaksud saat ini memang belum ditutup, kendati memang direncanakan ditutup.

“Bahwa 13 gerai yang ditutup, sampai saat ini belum ditutup, tapi memang rencana akan ditutup di 2021,” kata Miranti kepada Indonesia, Selasa ini (27/4/2021).

Dampak pandemi juga dirasakan emiten toko ritel lainnya yakni pengelola jaringan ritel Centro, PT Tozy Sentosa yang menutup gerai di Bintaro dan Plaza Ambarrukmo. Selain menutup operasional, Centro juga menghadapi kasus hukum di persidangan.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus) pada Senin 17 Mei 2021 bahkan sudah menyatakan pailit karena penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) ditolak oleh para pemasoknya. Putusan pailit itu dihasilkan setelah adanya hasil voting dari para kreditor dan rekomendasi dari hakim pengawas.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)