Kam. Apr 22nd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Studi Chile: Suntikan Pertama Sinovac Tak Lindungi dari Covid

Health workers guide drivers to shots of China's Sinovac CoronaVac vaccine during a priority COVID-19 vaccination program for the elderly at a drive-thru set up in the Pacaembu soccer stadium parking lot in Sao Paulo, Brazil, Monday, Feb. 8, 2021. (AP Photo/Andre Penner)

Jakarta, Indonesia – Sebuah studi terbaru soal vaksin corona (Covid-19) dikeluarkan Chile. Lembaga pendidikan di negeri itu, meneliti efektivitas sejumlah vaksin yang dipakai dalam melawan corona terutama vaksin CoronaVac dari Sinovac China, yang dipakai 93% di negara itu.

Dilansir dari AFP, studi oleh University of Chile menemukan dosis pertama vaksin ini saja tidak cukup melindungi dari infeksi virus corona. Efektivitas menjadi 56,5% dalam melindungi penerima dua minggu setelah dosis kedua dan hanya 27,7% efektif dalam dua minggu pertama.

Pilihan Redaksi
  • Ahli Ini Kaitkan Vaksin AstraZeneca dengan Pembekuan Darah
  • Awas Panas Dunia! AS Mau Boikot Olimpiade Beijing China

Untuk dosis tunggal saja, kemanjuran dalam 28 hari antara dosis pertama dan kedua, hanya 3%. Diperkirakan kemanjuran CoronaVac dalam kondisi kehidupan nyata sebesar 54%, sejalan dengan hasil uji coba di Brasil.

Para peneliti juga disebut mengamati efek vaksin buatan Pfizer-BioNTech. Tidak jelas dalam penelitian ini, apakah hasilnya bisa disamakan atau tidak.

Meski demikian, sebelumnya penelitian Israel menyebut vaksin Pfizer-BioNTech diperkirakan sekitar 94% efektif ke warga di negara itu.

“Mendapatkan vaksinasi sangat signifikan mengurangi kemungkinan infeksi, itu tidak menghilangkannya, tetapi menurunkannya banyak. Oleh karena itu Anda harus mendapatkan vaksinasi,” kata rektor Universitas Chile Ennio Vivaldi pada konferensi pers virtual.

“Tetapi juga jelas bahwa dosis pertama dengan sendirinya tidak memiliki efek yang relevan setelah empat minggu yang berarti penerima vaksin sama rentannya terhadap infeksi seperti orang yang tidak divaksinasi,” tegasnya lagi.

Studi tersebut memperkirakan bahwa untuk orang antara 75 dan 79, yang ditargetkan pada kampanye vaksinasi awal, akan terjadi 80% lebih banyak infeksi tanpa vaksin. Sementara untuk mereka yang berusia 70 hingga 74 tahun, persentasenya turun menjadi 60%.

Chile  salah satu kampanye vaksinasi paling maju di Amerika Selatan. Sejauh ini telah memberikan setidaknya satu suntikan kepada 7,07 juta orang dan keduanya memberikan suntikan kepada 4,04 dari 15,2 juta penduduk yang ditargetkan untuk vaksinasi.

Seperti bagian Amerika Latin lainnya, negara ini telah mengalami peningkatan tajam dalam infeksi baru. Bahkan telah melampaui tingkat harian gelombang pertama tahun lalu, dengan lebih dari 8.000 kasus baru per hari.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)