Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Suit-suit, ‘Body’ Ekonomi RI Bukan U Apalagi L Tapi V-Shape!

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto (Ist)

Jakarta, Indonesia – Kondisi perekonomian Indonesia kini sedang menuju arah yang semakin baik. Hal ini diungkapkan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Airlangga mengatakan kondisi perekonomian Indonesia masih jauh lebih baik dibandingkan negara lain. Di mana, kontraksi yang tidak terlalu dalam.

Baca:

Bukan RI Rosalinda, Ekonomi Negara Ini ‘to The Moon’ Sedunia

“Sekarang kita trennya sudah V-shape,” kata Airlangga, dikutip Kamis (11/3/2021).

“Kalau seperti krisis 1998 kan shapenya kan seperti huruf U. Sekarang kelihatan V-shape karena IHSG dan rupiah sudah seperti Januari tahun lalu dan tahun ini sudah recover ini sudah menjadi tanda perbaikan.”

Baca:

Ancaman Deflasi: RI Bisa Alami Depresi Ekonomi

Airlangga membandingkan hal tersebut dengan beberapa negara yang mengalami L-shape. Ini artinya setelah kontraksi masih belum ada perbaikan perekonomian.

Meski begitu, Airlangga menyebutkan pandemi Covid-19 menurunkan perekonomian terutama di kuartal II-2020 dengan pertumbuhan terkontraksi di kisaran 5%. Itu karena adanya penghentian mobilitas.

“Respon berikutnya seperti apa termasuk dari sisi ekonomi salah satunya dengan dikeluarkannya Perpu,” lanjutnya.

“Pemerintah memberikan stimulus agar ekonomi tidak jatuh dalam, makanya kita lakukan program pemulihan ekonomi dengan anggaran yang terserap sebesar Rp 578 T dengan langkah tersebut terlihat tren ekonomi berbalik dan secara yoy -2,07%,” paparnya.

Dengan respon yang dilakukan pemerintah, kontraksi perekonomian Indonesia tidak sedalam yang lainnya. Meski demikian, ini masih di bawah China, Taiwan, India, Singapura.

“Kondisi kita relatif lebih baik dibandingkan negara lain,” tegasnya.

Sementara untuk perekonomian kedepannya, pemerintah masih akan membentuk kebijakan anggaran dengan meningkatkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari realisasi Rp 579 triliun menjadi Rp 700 triliun.

Ada lima kebijakan utama, yakni perlindungan sosial, kesehatan, dukungan untuk UMKM, program prioritas dan insentif dunia usaha.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)