Rab. Jul 28th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Ternyata Gegara Ini Giant ‘Menyerah’, 7.000 Pegawai Bakal PHK

foto: foto : Giant Mampang Tutup (foto : Rehia Sebayang)

Jakarta, Indonesia – Perubahan kebiasaan belanja di masyarakat (dinamika pasar) dinilai menjadi salah satu alasan tutupnya gerai ritel di Tanah Air. Perubahan dimamika pasar itu membuat tren belanja bulanan ke supermarket menurun. Saat ini masyarakat punya kecenderungan mencari kebutuhan pokok di tempat yang lebih mudah diakses, di sekitar rumah, ditambah lagi menjamurnya minimarket.

Hal ini menjadi salah satu alasan Giant supermarket yang berada di bawah naungan PT Hero Supermarket Tbk (HERO) bakal menutup seluruh operasinya mulai Juli 2021.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Direktur HERO Hardianus Wahyu Trikusumo mengatakan keputusan menutup operasi Giant sebagai respons cepat serta tepat dari perusahaan yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar.

Apalagi saat ini konsumen Indonesia dari format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir, sebuah fenomena yang juga terjadi di pasar global. Kondisi tersebut bisa jadi sebuah indikasi bahwa masyarakat mulai meninggalkan pasar dengan format besar seperti supermarket keefektifan dalam berbelanja menjadi salah satu alasannya.

Patrik Lindvall Presiden Direktur HERO, dalam penjelasan 30 April lalu menegaskan kinerja keuangan bisnis ritel groseri HERO terus terkena dampak secara signifikan oleh pandemi.

Baca:

Sulap Giant Jadi IKEA, Saham HERO Melesat Ugal-ugalan!

Pembatasan sosial yang ketat, larangan perjalanan domestik dan khususnya, penutupan atau pemberlakuan pembatasan-pembatasan yang ketat di pusat perbelanjaan/mal telah mengubah pola belanja pelanggan secara substansial dan mengurangi jumlah kunjungan pelanggan ke lokasi-lokasi ini.

“Akibatnya, hal ini secara material mempengaruhi kinerja hypermarket sebagai destinasi belanja dalam format besar yang merupakan penyewa utama di pusat perbelanjaan/mal dan merupakan tempat mayoritas dimana area toko-toko Giant berada,” katanya

Dalam kesempatan berbeda, Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah juga mengungkapkan alasan di balik tutupnya ritel-ritel termasuk Giant.

“Selama masa Covid-19 memang customer nggak ingin lama-lama berbelanja, big format di masa Covid-19 menurunnya sangat-sangat drastis,” kata Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah kepada Indonesia, dikutip Minggu (30/5/21).

“Tapi small format, simpel, cari, beli bayar itu sudah lebih berkembang, saya rasa ke depan memang akan jadi semacam tren bahwa orang maunya yang simpel-simpel saja, nggak mau gede-gede atau yang gampang parkirnya, nggak usah banyak ketemu orang sentuh-sentuhan dan sebagainya,” kata Budihardjo.

Dalam kasus Giant, tanda-tanda ritel ini sudah goyang bahkan sudah terjadi sebelum pandemi Covid-19.

Pada Juli 2019, Giant menutup 6 gerainya dengan alasan efek perubahan gaya berbelanja masyarakat. Hero sempat menutup Giant Margo, City Depok, Jawa Barat serta Giant Kalibata, Jakarta Selatan.

Hingga Maret 2021, gerai Giant hanya tersisa 75 gerai, untuk Giant Ekstra maupun Giant Ekspres. Sepanjang 2019 hingga Maret 2021 ada 25 gerai Giant yang ditutup.

Meski demikian, Budihardjo mengatakan kategori ritel besar tetap memiliki segmen pasar tersendiri. Oleh karena itu, harapan untuk hypermarket berkembang tetap ada. Namun, hypermarket jangan hanya menunggu bola atau berdiam diri.

“Akan tetap bertahan, dalam konteks harus berinovasi. Misalkan memang kalau sudah nggak Covid-19, dia harus jadi semacam destinasi, karena dia gede dan lengkap. Tetap akan ada orang yang nggak pengen ke ritel kecil-kecil atau nggak lengkap, tetap pengen ke ritel gede yang lengkap. Jadi tetap ada segmen tertentu yang bisa diraih,” katanya.

Penawaran fasilitas itu menjadi daya tarik utama bagi ritel modern dengan big format. Ketika pengunjung bisa mendapatkan banyak hal di tempat tersebut, maka hypermarket tetap bisa menjadi pilihan.

“Di dalamnya ada makanan, kopi, teh, campur-campur. Jadi belanja sambil minum dan makan,” jelas Budihardjo.

Dengan modal memberikan pengalaman, maka hypermarket bisa bertahan. Karena itu, strategi perang harga seperti yang ada selama ini tidak lagi menjadi pilihan utama ke depan.

“Bukan perang harga, tapi pelayanan. Consumer to consumer cari yang nyaman. Jadi tetap ada market masing-masing,” ujar Budihardjo.

NEXT: Ada 7.000 Karyawan Kena PHK

Baca:

Tangis Sedih Karyawan Saat Giant Kibarkan Bendera Putih