Jum. Apr 23rd, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

Terungkap! 3 ‘Biang Kerok’ di Industri Hulu Migas RI

Foto: skkmigas.go.id

Jakarta, Indonesia – Kondisi hulu migas RI menemui beberapa tantangan dalam menjalankan bisnisnya, seperti produksi dan investasi. Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto menyebutkan ada tiga hal penting yang menjadi tantangan industri hulu migas di Indonesia.

Pertama, adanya peralihan dari energi berbasis fosil ke energi baru terbarukan (EBT). Kedua, adanya persaingan yang lebih keras karena munculnya produsen migas konvensional dan non konvensional. Ketiga, menurunnya permintaan migas akibat pandemi Covid-19.

Baca:

Ramai-ramai Perusahaan Migas Global Merger, Fenomena Apa ini?

“Ada tiga hal, pertama dengan adanya isu mengenai EBT dan persaingan lebih keras karena muncul minyak-minyak, tidak hanya konvensional tapi non konvensional, seperti shale oil dan shale gas dan sebagainya dan sumber energi lain,” ungkapnya dalam wawancara bersama Indonesia, Senin (11/01/2021).

Melihat kondisi ini, maka menurutnya harga minyak dunia akan sulit untuk bisa diharapkan berada pada posisi tinggi kembali seperti sebelum masa pandemi. Menurutnya, ke depan akan ada keseimbangan baru di mana harga minyak memang akan semakin tertekan.

“Maka, dari aspek price (harga minyak), kita akan sulit mengharapkan harga minyak dunia akan kembali tinggi seperti masa-masa yang lalu, ada keseimbangan baru ke depan yang memang semakin tertekan,” tuturnya.

Baca:

Drama Pilpres AS, Pemakzulan Trump Season II Segera Dimulai

Dwi mengatakan selama kurun waktu 25 tahun produksi minyak Indonesia terus mengalami penurunan. Padahal Indonesia masih punya banyak potensi di mana masih ada j128 cekungan dan baru 20 cekungan yang produksi.

“Masih banyak potensi yang masih terbuka, kita butuh para investor untuk meningkatkan produksi minyak dan gas Indonesia,” ujarnya.

Tantangan ketiga yakni anjloknya permintaan minyak dampak dari Covid-19 yang terjadi di tahun 2020. “Ketiga, penurunan demand (permintaan) yang baru saja terjadi di 2020 ini, karena adanya pandemi,” papar Dwi.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)