Sab. Jun 12th, 2021

DAILY BERITA

News, Events & Stories in Indonesia

The Fed Warning Risiko Ini Saat Lockdwon Covid AS Dibuka

Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, Indonesia – Bank Sentral Amerika Serikat (AS), The Fed, mengungkapkan bahwa risiko inflasi yang cukup tinggi akan membayangi negara adidaya itu saat tindakan penguncian (lockdown) Covid-19 dibuka.

Dilansir International, hal ini disampaikan langsung oleh Ketua The Fed Jerome Powell. Ia mengatakan bahwa bila inflasi terjadi, mereka tidak memiliki pilihan untuk menaikkan suku bunga.

Pilihan Redaksi
  • Biang Kerok IHSG Nyungsep, Asing Lego 10 Saham Top di Bursa
  • Mohon Maaf, IHSG-Rupiah-SBN Sepertinya Bakal Babak Belur!

“Kami memperkirakan bahwa saat ekonomi dibuka kembali dan mudah-mudahan meningkat, kami akan melihat inflasi bergerak naik melalui efek dasar,” kata Powell selama konferensi Wall Street Journal, Kamis (4/3/2021).

“Itu bisa menciptakan tekanan ke atas pada harga.”

Komentar ini, membuat Wall Street bereaksi negatif terhadap komentar Powell. Bursa saham AS merosot dan imbal hasil Treasury melonjak.

Indeks Dow Jones merosot 1,11%, S&P 500 minus 1,34% dan Nasdaq paling parah ambrol 2,11%. Kemarin, yield Treasury tenor 10 tahun naik 8,01 basis poin ke 1,5484%. Level tersebut merupakan penutupan perdagangan tertinggi di tahun ini, dan sejak Februari 2020 lalu.

Meski begitu, Powell mengulangi pernyataan masa lalu yang ia buat tentang inflasi dengan mengatakan bahwa bank sentral AS tidak mengharapkan kenaikan harga akan berlangsung lama alias hanya sementara. Sehingga mungkin tidak a cukup untuk mengubah The Fed dari kebijakan moneter akomodatifnya.

The Fed lebih memilih inflasi sekitar 2%, tingkat yang diyakini menandakan ekonomi yang sehat dan memberikan ruang untuk memangkas suku bunga selama masa krisis. Namun realitanya, inflasi AS selalu terjadi di bawah angka tersebut selama sebagian besar dekade terakhir dan kali ini inflasi menjadi sangat rendah karena pandemi virus corona.

Dengan ekonomi yang semakin bangkit, beberapa tekanan harga kemungkinan akan muncul. Tetapi ia menambahkan mereka kemungkinan akan bersifat sementara saja dan seperti terlihat lebih tinggi karena “efek dasar” atau efek di mana sesuatu berada di level rendah naik sedikit saja namun hal itu dinilai sebagai kenaikan yang signifikan.

Menaikkan suku bunga, tambahnya, akan membutuhkan ekonomi untuk kembali ke lapangan kerja penuh dan inflasi mencapai tingkat yang berkelanjutan di atas 2%. Dia tidak mengharapkan keduanya terjadi tahun ini.

“Ada banyak hal yang harus ditutupi sebelum kita membahasnya,” katanya.

“Bahkan jika perekonomian melihat kenaikan sementara dalam inflasi, saya berharap kita akan bersabar.”

The Fed telah berulang kali mengatakan bahwa mereka akan mempertahankan suku bunga jangka pendek, berlabuh di dekat nol, dan melanjutkan program pembelian obligasi bulanan sampai kondisi ekonomi pulih dan pengangguran berkurang.

Namun, beberapa ekonom khawatir bahwa komitmen Fed pada suku bunga rendah akan mendorong inflasi. Powell mengatakan bahwa ia “sangat memperhatikan” pelajaran dari inflasi yang tak terkendali di tahun 1960-an dan 70-an, tetapi yakin situasinya berbeda.

“Kami sangat berhati-hati dan menurut saya adalah hal yang konstruktif bagi orang-orang untuk menunjukkan potensi risiko. Saya selalu ingin mendengarnya,” ucapnya.

“Tapi menurut saya, kemungkinan besar apa yang terjadi di tahun depan atau lebih akan mengarah pada kenaikan harga tetapi tidak bertahan dan tentu saja tidak bertahan sampai pada titik di mana ekspektasi inflasi akan bergerak secara material di atas 2%.”

[Gambas:Video ]

(sef/sef)